Aku melangkahkan kakiku menuju ruang kelasku. Nampaknya aku terlambat lagi untuk mengikuti mata kuliahnya Pak Randy-dosen mata kuliah Multimedia. Dan ini, sepertinya sudah menjadi keterlambatanku untuk yang kedua, eh tepatnya dua kali dua alias keempat kalinya.

Jantungku berdetak lebih cepat seiring langkah kakiku yang semakin dekat dengan Ruang B.  Ketakutan akan hukuman-hukuman pun semakin bergelora dalam nadiku. Aku cukup tahu kalau Pak Randy adalah dosen yang tergolong killer.

Tak ada pilihan lain, aku bukan pengecut yang takut pada kenyataan. Selama Allah selalu bersamaku, Insya Allah semua akan baik-baik saja. Dan aku tak membutuhkan waktu lama untuk berfikir apakah aku akan sekalian membolos atau berani mengambil resiko dimaki Pak Randy di depan teman-temanku.

Tangan mungilku pun akhirnya mengetuk pintu yang di dalamnya tengah berdiri Pak Randy.

“Maaf, Pak,” ucapku dengan gemetaran. Aku gugup.

“Duduk!” suruh Pak Randy.

Aku seolah tak percaya dengan apa yang diucapkannya. Namun akhirnya aku segera mencari tempat duduk kosong, dan kebetulan aku mendapatkannya di antara Mario dan Nello.

Aku pun akhirnya mampu melewati mata kuliah Pak Randy dengan tenang. Namun usai perkuliahan selesai, Pak Randy memanggiku. Memberiku hukuman dengan pembuatan makalah tentang Multimedia.

“Saya beri kamu waktu sampai besok pagi, tak ada perpanjangan,” ucapnya dengan tegas, lalu meninggalkanku.

Mataku melotot sewaktu memandangi selembar soal yang diberikan oleh Pak Randy. Membaca soalnya saja, aku sudah cukup frustasi. Pembuatan makalah ini, tak bisa instan.

“Tenang aja, ntar gue bantu,” ucap Mario yang sudah berdiri disampingku.

Aku tersenyum, seperti ada pencerahan untuk hukumanku kali ini. namun Adel? Nama itu tiba-tiba mendatangi hatiku, gadis dengan sejuta gaya yang sangat tergila-gila pada Mario itu pasti akan murka jika megetahui Mario tengah dekat denganku.

“Makasih, ya?” ucapku pelan.

“Pokoknya lo tenang aja, semua pasti beres di tangan gue,” tambah Mario dengan antusias.

Aku hanya mengangguk pelan.

***

Gue ngedeket ke arah gadis berjilbab itu. Gadis itu sebenarnya cukup familiar, sifatnya yang simple dan murah senyum itulah yang membuatnya berbeda dengan gadis-gadis lainnya.

Gue ngedeket ke arahnya yang tengah berdiri mematung lantaran Pak Randy memberinya tugas. Gue ngelirik sedikit soalnya. Sebenarnya, itu soal yang lumayan gampang untuk gue kerjain, tapi gue yakin, tuh soal pasti sudah seperti racun untuk Mayla-gadis berjilbab itu.

“Tenang aja, ntar gue bantu,” tawar gue yang sebenarnya sudah sejak tadi berdiri di dekat Mayla. Namun sepertinya gadis itu tak menyadarinya karena terlalu memikirkan tugas yang menurutnya berat itu.

“Makasih, ya?” ucap May terdengar datar.

“Pokoknya lo tenang aja, semua pasti beres di tangan gue,” promosi gue lagi.

May hanya mengannguk pelan. Lalu melangkahkan kakinya pergi. Gu emengikutinya.

“Lo mau kemana?” tanya gue begitu ingin tahu.

“Ke perpus, cari resensi buat nyelesiin tugas ini,” jawab May yang semakin mempercepat langkahnya.

“Ke kantin dulu lah, gue lapar nih,” rengek gue yang tidak dipedulikannya.

“Kalau mau ke kantin ya ke kantin aja, aku bisa sendrian kok. Lagian aku tadi juga nggak ngajak kamu.”

Sebenarnya yang diucapkan May memang benar. Namun gue kan sudah bilang mau bantuinnya, nggak mungkin juga gue ngebatalin gitu aja. Mau gue taruh mana nich muka kalau omongan gue, mencle-mencle.

                Terpaksa gue ngalah untuk nahan lapaer di perut gue yang sebenarnya sudah pada demo untuk minta diisi. Setidaknya, gue ingin lebih dekat mengenal sosok Mayla yang terkenal dingin menghadapi cowok-cowok. Masa iya kalau cowok se-cute gue ini tidak membuat hatinya bergoyah.

***

Saya sangat membencinya, gadis sok suci yang telah merebut perhatian Mario dari tangans saya. Bagi saya, Mayla tak lebih dari gadis sok suci, sok jual mahal yang sebenarnya murahan. Gadis tidak laku-laku saja belagunya minta ampun, tapi ternyata dia tak lebih dari seorang penggoda yang merebut kekasih oranga.

Dalam hati saya, saya sangat muak melihat wajah yang terlihat polos itu. Selalu berlagak mengiba, namun selalu melontarkan senyum yang sebenarnya hanya memperlihatkan rentetan giginya yang tertata tidak rapi itu.

Dari arah luar, mata saya dengan jelas menangkap polah tingkahnya bersama Mario. “Percumalah berjilbab, kalau ternyata gampangan,” celoteh saya dengan menatap sinis ke arah Mayla.

Entah mengapa, saya sangat menginginkan gadis itu celaka, musnah dari muka bum dan saya tak akan pernah melihatnya lagi. Gadis yang selalu mencuri perhatian kaum laki-laki yang seharusnya selalu berfokus pada tubuh sexy saya.

Ah, Mayla Hardinata, apa kelebihan yang dimilikinya? Otaknya saja pas-pasan, kere dan apa yang dipakainya sama sekali tidak bermerk, hanya itu-itu saja. Dandanannya pun terlihat katrok, apalgi jilbab besarnya itu. Benar-benar membuat saya muak.

***

Alhamdullilah, berkat bantuan Mario, tugasku terselesaikan juga. Aku tak perlu menunggu samapi besok, malam ini aku segera mengumpulkannya.

Ketika aku melangkahkan kakiku keluar dari perpustakaan, hari sudah mulai gelap. Adzan magrib telah berkumandang. Aku melangkahkan kaki menuju masjid kampus, namun Mario menghentikan langkahku.

“May, mau kemana? Gue laper, ayo makan,” ucapnya dengan nada meninggi.

“Aku mau sholat dulu,” alasanku.

“Sholat?” ucap Mario dengan kening berkerut.

Aku hanya mengangguk, kemudian kembali melangkahkan kaki menuju masjid yang berada di sudut barat kampus. Aku segera berwudhu dan cepat-cepat mengambil mukena. Aku tidak mau sampai melewatkan kesempatan untuk sholat berjamaah.

***

Akhirnya tugas-tugas Mayla selesai juga. Rasanya tuh gue lega banget. Berarti ini saatnya kami menikmati makan siang sekaligus makan malam.

Gue dan Mayla melangkahkan kaki beriringan keluar dari ruang perpustakaan. Namun Mayla buru-buru pergi melangkahkan kakinya. Namu suara cempreng gue mampu menghentikan langkahnya.

“May, mau kemana? Gue laper, ayo makan,” teriak gue yang sudah tak sabar ingin makan berdua dengan Mayla.

Lagi, lagi dan lagi, Mayla tersenyum sebelum menjawab pertanyaan yang gue lontarkan.

“Aku mau sholat dulu,” jawabnya sembari berlari kecil menjauh dari tenpat gue berdiri.

“Sholat?” ucap gue tak percaya. Zaman sekarang masih ada yang mau sholat?

Gue pun akhirnya melangkahkan kaki menuju kantin. Masih tetap berharap kalau Mayla bakalan nemuin gue di kantin dan bersedia nemenin gue makan.

***

Gue masih setia nungguin Mayla. Lama banget ritual sholatnya itu. Hampir setengah jam gue menunggunya. Namun akhirnya gadis misterius itu nongol juga.

Mayla nemenin gue makan. Baru kali ini dia tidak menolak keinginan gue. Gue sangat seneng sekali. Setidaknya gue telah maju satu langkah dengan teman-teman yang lainnya, gue mampu mengajak Mayla makan berdua. Yah, walau Cuma di kantin kampus dan tidak seromantis di cafe langganan gue sih. Tapi seenggaknya gue sangat seneng banget.

“May, thaks ya udah nemenin gue makan?” ucap gue padanya.

Mayla lagi-lagi mengulum senyumnya. Senyum yang membuatku semakin tak tahan untuk mencubit pipi chubby-nya itu.

“Aku juga makasih, kamu udah bantuin aku ngerjain tugas,” ucapnya dengan lembut.

“Itu semua nggak gratis hlo,” goda gue yang membuat Mayla mengerutkan keningnya.

“Maksudnya?”

Gue mencoba memegang jemarinya, namun Mayla segera menepisnya.

Sorry, bukan muhrim,” tolaknya yang membuat gue sedikit frustasi.

Rasanya gue tidak mau membuang-buang waktu lagi. Gue putuskan untuk mengatakan tetang perasaan gue kepadanya, sekarang juga. “May, loe mau nggak jadi cewek gue?” tembak gue langsung mengarah pada sasaran.

Gue sempat melihat wajah Mayla yang kaget mendengar ucapan gue. “Maaf, tapi agama ku tidak ada pacaran,” tolaknya lembut. “Kalau kamu memang benar-benarserius padaku, temui kedua orang tuaku,” ucapnya lalu bergegas pergi meningglkan gue.

***

Seusai sholat, aku sesegera mungkin berjalan menuju kantin. Menemui  Mario yang hari ini telah bersedia menemaniku.

Sesampainya di kantin, aku langsung duduk di hadapan Mario yang sudah menghabiskan dua gelas es teh selama menungguku. Kami pun akhirnya langsung memesan makanan dan segera melahapnya.

“May, thaks ya udah nemenin gue makan?” ucapnya padaku.

Aku hanya mampu tersenyum. “Aku juga makasih, kamu udah bantuin aku ngerjain tugas,” balasku dengan suara pelan.

“Itu semua nggak gratis hlo,” ucap Mario yang membuatku tersentak kaget.

Aku mengerutkan keningku.  “Maksudnya?” tanyaku dengan diliputi banyak tanda tanya besar dikepalaku.

Mario hanya tedriam. Dia justeru berusaha meraih jemariku. Namun aku sesegera menepisnya dengan lembut. “Sorry, bukan muhrim,” ucapku dengan lembut. Aku masih mampu meredam emosiku dan memberinya seutas kesabaran. Setidaknya aku masih menghargainya yang hari ini sudah banyak membantuku.

“May, loe mau nggak jadi cewek gue?” tanya Mario yang membuat hatiku berdesir kencang. Semua persendianku terasa melemah. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya kalau Mario akan mengatakan hal itu kepadaku.

Setidaknya, aku cukup tahu dengan repotasi Mario yang suka bergonta-ganti cewek. Dan aku tak akan pernah bersedia menjadi korbannya selanjutnya.

“Maaf, tapi agama ku tidak ada pacaran,” tolakku lembut. “Kalau kamu memang benar-benarserius padaku, temui kedua orang tuaku,” ucapku lalu bergegas pergi meninggalkannya.

Di tengah perjalananku, seseorang menghentikan langkahku. Aku cukup mengenalnya. Dia adalah Ariestha, gadis yang selalu mem-bully-ku. Entah mengapa, dia sangat membenciku. Bahkan, berulang dia berusaha mencelakaiku.

“Heh, kimcil, dasar cewek gatel, sama kayak ibu loe, bisanya ngerebut laki orang!” makinya padaku. Mendengar ucapannya, dadaku terasasesak. Keji sekali perkataannya.

Ya Allah, ampunilah dia Ya Allah. Kuatkan hatiku agar tak sampai menghujatnya, pekikku dalam hati.

“Maksudmu apa ya, Tha?” tanyaku tak mengerti.

“Nggak usah berlagak bego loe! Ekali lagi gue liat loe deket-deket ma Mario, Ibu loe taruhannya. Dasar kimcil!” makinya yang lalu meninggalkan aku.

Kini aku tak lagi sanggup membenduang airmataku. Kesalahan masalalu yang diperbuat Ibu, ternyata melahirkanku dari suatu hubunagn gelap. Yah. Mungkin semua beranggapan kalau aku tak pantas menutup aurotku karena aku adalah anak seorang pelacur yang tak jelas siapa Ayahnya, namun setidaknya aku hanya ingin berjalan sesuai syariat-Nya. Aku tahu Tuhan tidak tidur, dan aku tahu kalau Beliau tahu yang terbaik untukku.

***

Saya semakin muak melihat gads itu menikmati makan malamnya bersama Mario. Entah mengapa. Bayang-bayang masalalu itu kembali terkenang dalam ingatan saya. Waktu itu, Mama mengajak saya untuk menikmati makan siang di luar seusai pulang sekolah. Sebagi anak tunggal, rasa manja saya pun keluar. Saya meminta Papa untuk menemani saya menikmati makan siang bersama Mama juga. Namun Papa menolaknya lantaran di kantor banyak pekerjaan.

Namun ternyata semua hanyalah kebohongan Papa. Saya melihat Papa tengah jalan-jalan dengan wanita lain dan seorang anak kecil seumuran dengan saya kala itu, dan anak kecil itulahyang kini menjelma menjadi Mayla.

Saya mengejar Mayla yang tengah meninggalkan Mario. Saya mencegatnya dengan hati berkecamuk luka.

“Heh, kimcil, dasar cewek gatel, sama kayak ibu loe, bisanya ngerebut laki orang!” maki saya padanya. Mayla hanya terdiam. Dia tak mampu menjawab makian yang saya hujatkan padanya.

“Maksudmu apa ya, Tha?” tanyanya dengan memperlihatkan wajah polosnya.

Saya mendengus kesal. hati saya sudah sangat malas melihatnya. Saya sangat membencinya. Karena dia dan Ibunya, cinta Papa menjadi terbagi.

“Nggak usah berlagak bego loe! Ekali lagi gue liat loe deket-deket ma Mario, Ibu loe taruhannya. Dasar kimcil!” ancam saya lalu segera meninggalkannya.

Saya puas telah berhasil memakinya. Walau hati saya sebenarnya masih menginginkan lebih. Tapi membunuhnya, hanya akan menghentikan dendam saya. Saya belum ingin dia mati begitu saja, namun saya ingin kalau dia mati perlahan-lahan dan merasakan luka yang saya rasakan.

Witri Prasetyo AjiCerpenAku melangkahkan kakiku menuju ruang kelasku. Nampaknya aku terlambat lagi untuk mengikuti mata kuliahnya Pak Randy-dosen mata kuliah Multimedia. Dan ini, sepertinya sudah menjadi keterlambatanku untuk yang kedua, eh tepatnya dua kali dua alias keempat kalinya. Jantungku berdetak lebih cepat seiring langkah kakiku yang semakin dekat dengan Ruang B.  Ketakutan...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments