LOMBA BLOG CINTA YANG MENGISPIRASI

KETIKA CINTA TAK MENGENAL HARTA

Orang-orang di desaku biasa memanggilnya Kang Parmin, bapak dari 14 orang anak yang pekerjaan kesehariannya hanya sebagai guru ngaji. Bisa dibayangkan, berapa ribu rupiah pendapatan seorang guru ngaji. Hanya seatas keikhlasan para orangtua anak asuh Kang Parmin memberi. Tapi, Alhamdullilah, meski Kang Parmin mendapatkan rejeki dari profesinya sebagai guru ngaji, toh Allah setiap hari mencukupkan rejekinya, Kang Parmin beserta isteri dan ke-14 anaknya tak pernah kelaparan.
Anak-anak Kang Parmin sebenarnya pintar-pintar, tapi lagi-lagi semuanya terhambat biaya. Anaknya Kang Parmin yang paling besar sudah berusia 17 tahun, namanya Abdul, dia bekerja sebagai kuli pasar, maklum karena pendidikannya terhenti sampai SD. Sementara yang paling kecil, baru berusia 2 bulan. Sedangkan isterinya Kang Parmin, Mak Inem orang memanggilnya, hanya ibu rumah tangga yang hanya meminta nafkah pada suaminya.
Sebenarnya, Mak Inem ingin sekali membantu suaminya mencari nafkah agar anak-anaknya tak cukup sekolah sampai SD saja, tapi Kang Parmin selalu melarangnya.
“Mencari nafkah itu kewajiban suami, Bu. Seorang isteri itu Cuma di rumah, mengurus rumah dan anak-anak. Apalagi anak-anak kita masih kecil-kecil, masih membutuhkan perhatian Ibu,” ucapan yang selalu dikatakan oleh Kang Parmin tiap kali Mak Inem meminta izin untuk bekerja.
Mak Inem selalu mengangguk dan menurut dengan apa yang diucapkan Kang Parmin. Mak Inem tak pernah membantah atau bahkan mengeluh tentang keadaan keluarganya bersama Kang Parmin yang serba pas-pasan. Bagi Mak Inem, semua sudah digariskan oleh Yang Kuasa. Kang Parmin adalah imam yang baik untuknya, sementara anak-anak adalah rejeki yang diamanahkan Allah kepadanya dan Kang Parmin. Jadi, buat apa mengeluh, semua tak ada gunanya.
***
“Bu, ini ada rejeki yang Allah titipkan buat Bapak. Tidak banyak memang, tapi semoga saja bisa cukup untuk makan kita sehari-hari,” ucap Kang Parmin sembari memberi dua lembar uang seratusribuan kepada Mak Inem.
“Alhamdullilah Ya Allah, terima kasih ya, Pak. Ibu akan menjajakannya untuk membeli beras buat makan kita dan anak-anak, Pak,” ucap Mak Inem penuh syukur. Mak Inem sama sekali tak merasa kurang. Beliau menerima dua lembar ratusan ribu dengan hati yang bahagia, wajah yang selalu berseri dan bibir yang tak henti merekahkan senyum.
Kang Parmin menatap isterinya haru. Terkadang, Kang Parmin merasa bersalah karena hanya bisa memberikan kehidupan yang seperti ini pada Mak Inem. Tapi, Mak Inem selalu memarahi Kang Parmin jika Kang Parmin merasa seperti itu. Selama ini Mak Inem sudah merasa bahagia menjadi isteri Kang Parmin.
Kang Parmin yang setia, yang tak pernah membentak-bentak Mak Inem dan selalu bersikap lembut, Kang Parmin yang selalu mengajari Mak Inem dan anak-anak mengaji, bahkan keluarga Kang Parmin tak pernah absen untuk sholat berjamaah. Ah, bagi Mak Inem, tak ada lelaki yang sehebat Kang Parmin.
“Ibu sangat bahagia bisa mempunyai suami seperti Bapak,” ucap Mak Inem disaat sedang erdua dengan Kang Parmin. Maklum, malam sudah semakin larut dan anak-anak sudah pada tidur. “Ibu sangat bersyukur sekali karena Allah telah memberikan imam yang baik kepada Ibu,” lanjut Mak Inem.
Kang Parmin menatap isterinya lembut. “Bapak juga bahagia karena telah diberikan isteri yang sehebat Ibu,” balas Kang Parmin memuji.
Kang Parmin lalu memeluk erat isterinya. Cinta telah mempersatukan mereka dan menjadi indah di jalan-Nya. Saling menerima keadaan masing-masing dan menjalani bahtera rumah tangga apapun keadaannya.
Hidup serba pas-pasan, ternyata tak menggoyahkan cinta yang bersemayam di hati Kang Parmin dan Mak Inem. Mereka justeru menikmati hidup yang sera adanya itu dan saling menguatkan. Ah, betapa dahsyatnya kekuatan cinta itu.

Witri Prasetyo AjiUncategorizedKETIKA CINTA TAK MENGENAL HARTA Orang-orang di desaku biasa memanggilnya Kang Parmin, bapak dari 14 orang anak yang pekerjaan kesehariannya hanya sebagai guru ngaji. Bisa dibayangkan, berapa ribu rupiah pendapatan seorang guru ngaji. Hanya seatas keikhlasan para orangtua anak asuh Kang Parmin memberi. Tapi, Alhamdullilah, meski Kang Parmin mendapatkan rejeki...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments