Radar Bojonegoro, 12 April 2015
Radar Bojonegoro, 12 April 2015

Setiap tahun ajaran baru, para siswa biasanya peralatan sekolahnya juga baru. Seperti buku, pensil, penghapus, seragram, tas dan sepatu. Hal itu pula yang terjadi pada kelas Ani. Hampir semua teman-temannya menggunakan barang-barang yang serba baru.

“An, lihat deh, kemarin aku baru saja dibeliin tempat pensil baru sama Mamaku,” Vivi pamer sembari memperlihatkan tempat pensil berwarna merah kepada Ani.

“Wah, bagus banget, Vi,” Ani kagum melihat tempat pensil itu.

“Iya dong,” Vivi tersenyum.

Ani kemudian menunduk. Ada rasa iri yang mendatangi hatinya. Semua teman-temannya membawa peralatan sekolah baru, sementara dia? Mungkin hanya buku tulisnya saja yang baru.

Tas dan sepatunya sudah bolong, pensilnya sudah memendek, sementara tempat pensil? Ani tidak pernah dibelikan tempat pensil sama ibunya.

Sebenarnya Ani juga ingin seperti teman-temannya yang lain. Tapi Ani sadar diri, Ani bukan anak orang kaya. Ibunya hanya seorang penjahit yang penghasilannya tidak pasti. Sementara ayahnya sudah lama meninggal. Ani hanya tinggal bersama ibunya saja. Ani anak tunggal.

Sepulang sekolah, Ani langsung pulang ke rumah. Didapati ibunya tengah menjahit. Selepas masuk ke rumah, Ani langsung menghampiri ibunya dan mencium punggung tangan ibunya. Tapi wajah Ani tiba-tiba murung.

“Loh, kamu kenapa, Nak?” Tanya Ibu pada Ani.

Ani menunduk. Perlahan, air matanya terjatuh.

“Kog nangis?” Tanya Ibunya sembari mengusap lembut rambut Ani.

Ani sesenggukan. Lalu memeluk ibunya.

“Ayo cerita sama ibu, Nak. Kamu ada masalah apa?” Dengan sabar, Ibu menantikan ceritanya Ani.

Setelah melepas pelukan ibunya, Ani mengusap air matanya. “Tadi, di sekolah, Vivi punya tempat pensil baru, Bu,” ucap Ani dengan terbata.

Ibu hanya tersenyum. “Kamu pengen?” Ibu kembali bertanya.

Ani menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Ya sudah, nanti Ibu buatin. Sekarang, Ani ganti baju, lalu makan dulu,” ucap Ibu dengan sabar.

“Tapi Ani nggak pengen dibuatin, Bu.”

Ibu tetap tersenyum. “Ya sudah, nanti kita beli.”

“Benar, Bu?” Tanya Ani dengan mata terbelalak.

Ibu mengangguk.

“Hore,” teriak Ani kegirangan. Lalu segera ke kamarnya untuk ganti baju, kemudian makan.

Saat Ani sedang makan, terdengar suara berisik dari luar. Ani mengintipnya. Rupanya ada rentenir yang datang ke rumah untuk menagih hutang. Rentenir itu memaki-maki ibunya sampai Ani ketakutan.

Setelah rentenir itu pergi, Ani menghampiri ibunya. Ibu yang sepertinya habis menangis, kini tersenyum di hadapan Ani.

“Ani sudah makanya?” Tanya Ibu dengan lembut.

Ani mengangguk. “Sudah, Bu.”

“Kalau begitu, yuk kita beli tempat pensil.”

Ani menggeleng. “Ani pengen dibuatin saja, Bu.”

“Loh, kenapa?” Tanya Ibu dengan heran.

“Uangnya ditabung buat bayar hutang saja, Bu,” ucap Ani dengan sedih.

“Ibu masih punya uang kok, buat bayar hutang.”

Ani tetap menggeleng. Ibu lalu memeluk Ani. Setelah itu, Ibu kemudian menjadit tempat pensil untuk Ani. Tempat pensil itu terbuat dari kain berwarna hijau. Ibu pintar sekali memberinya variasi. Tempat pensil itu diberi hiasan dari kain fanel. Ada hiasan berbentuk boneka yang membuatnya terlihat tambah manis.

“Bagus sekali, Bu,” Ani terlihat senang.

Keesokan  harinya, Ani membawa tempat pensil itu ke sekolah dan memamerkannya pada teman-temannya. Ani berceritan kalau tempat pensil itu buatan ibunya. Teman-temannya kepengen, termasuk juga Vivi. Bahkan Vivi memesannya supaya dibuatkan.

Sesampainya di rumah, Ani menceritakan reaksi teman-temannya kepada Ibu. Ibu hanya tersenyum. “Kalau begitu, Ibu buatkan lagi ya, Nak?” Kata Ibu yang dijawab dengan anggukan oleh Ani.

Maka, hari itu Ibu membuat beberapa tempat pensil. Keesokan harinya, tempat pensil itu dibawa Ani ke sekolah. Di sekolah langsung diburu teman-temannya. Teman-teman Ani membelinya. Bahkan memesan lagi supaya dibuatkan.,

Semenjak hari itu, Ani sekolah sembari berjualan tempat pensil. Teman-teman Ani sangat menyukai tempat pensil buatan ibunya Ani. Katanya, lucu tetapi harganya murah.

Sementara hasil penjualan tempat pensil itu, Ani berikan kepada ibunya. “Bu, ini uangnya buat bayar hutang ya, Bu,” kata Ani kepada ibunya sembari memberikan uang hasil penjualan tempat pensil.

Ibu terharu sampai menitikkan air mata. Lalu memeluk Ani.***

Boyolali, 9 Februari 2015

Witri Prasetyo AjiUncategorizedSetiap tahun ajaran baru, para siswa biasanya peralatan sekolahnya juga baru. Seperti buku, pensil, penghapus, seragram, tas dan sepatu. Hal itu pula yang terjadi pada kelas Ani. Hampir semua teman-temannya menggunakan barang-barang yang serba baru. “An, lihat deh, kemarin aku baru saja dibeliin tempat pensil baru sama Mamaku,” Vivi pamer...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments