PINTER TAK SELALU BISA DINILAI ALMAMATER

1
Sumber Gambar : Google

Sebenernya, sudah lama banget pengen cuap-cuap tentang masalah ini. Cuman, belum nemuin waktu yang pas ajah. Dan, kebetulan banget nemu status diajeng Artie Ahmad yang mak jlebbb ngena di hati.

Yups, direndahkan karena pendidikan itu sakit, loh. Karena kepinteran seseorang nggak selamanya bisa dinilai dari pendidikan dan almamaternya. Pendidikan tinggi, nggak menjamin kepinteran seseorang. Yaa, meski nggak bisa munafik kalau yang berpendidikan tinggi itu ilmu dan pengalamannya lebih banyak dari yang berpendidikan nggak tinggi, yaaa?

Tapi, menurut saya, pendidikan dan almamater bukan jaminan seseorang itu pinter. Hanya saja, terkadang orang memandang yang berpendidikan tinggi dan beralmamater favorit itu yang paling pinter. Padahal, nggak bisa dipandang begitu. Karena terkadang, di sekitar kita ada orang pinter namun nggak bisa nerusin sekolah tinggi lantaran biaya. Iya, biaya. Biaya pendidikan sekarang mahal, booo.

Argh, langsung the point aja, yaaa, muter-muter bikin pusing. Yang mau saya bahas, ini tentang almamater. Iya, ALMAMATER!

Berawal dari saya, saya ini produk dari Almamater nggak favorit dan tergolong kampus baru. Bisa dibayangkan kan, gimana keadaan kampus baru. Tentunya beda banget yaaa, dengan kampus yang sudah berdiri puluhan tahun.

Karena almamater yang ‘nggak favorit‘ itu, saya kerap dianggap ‘BODOH‘ dan dipandang sebelah mata. Dibandingkan dengan sesorang yang bagroundnya lulusan almamater favorit yang kalau menurut saya, ilmu yang kami miliki nggak jauh beda. Kenapa saya bisa ngomong nggak jauh beda? Karena dia yang dianggap LEBIH dari saya itu nggak jarang kog minta bantuan dan tanya ini itu sama saya.

Jujur saja yaaa, di dunia kerja nggak bisa deh semua dinilai dari almamater. Lulusan almamater favoritpun nggak bisa jadi jaminan dia yang paling bisa. Aku udah ngebuktiin sendiri.

Sementara dari dunia literasi yang saya geluti, sama halnya almamater bukan jaminan kalau seseorang bisa jadi penulis beken. Iya, emang ada yang lulusan sastra terus lebih beken dari yang lain, tapi itu bukan jaminan. Perlu diingat saja, ilmu itu bisa dipelajari dan ilmu nggak selamanya didapat dari sekolah.

Iya, saya mau cerita tentang diri sendiri yang karyanya dipandang sebelah mata karena saya bukan lulusan sastra. Wuih, sakit banget loh. Iya, saya memang bangga ketika salah satu novel saya ACC mayor. Bangga dan seneng. Karena aku tahu, tembus terbit mayor itu nggak mudah dan butuh perjuangan. Ditolak penerbit sana sini itu rasanya… (yang penulis pasti tahu rasanya)

Dan setelah jadi buku dipandang sebelah mata dan dibandingin dengan yang lulusan satra padahal karnya ajah belum ada yang ACC mayor itu… Haduh, jujur saja sakit.

Menurut aku yaaa, jadi penulis itu nggak harus lulusan satra kog. Asal kita mau menuli menuli dan menulis, bisa kog jadi penulis. Seperti contoh, Ariny NH yang lulusan SMP ajah udah melahirkan puluhan novel, banyak juga loh karyanya yang ACC mayor. Mbak Anisa AE yang juga lulusan SMP, bisa juga ngurusin penerbitan indie yang dibuatnya dan Beliau tergolong blogger yang aktif. Ada juga Artie Ahmad yang lulusan SMK, novelnya juga udah pada ACC mayor, tuh. Sementara kalau yang lulusan perguruan tinggi, saya ngaca dari Bernad Batubara. Dia anak TI, tapi novelnya selalu nangkring di rak best seller, loh.

Nah, itu semua memberi pelajaran banget buat aku. Pinter dan sukses itu tidak bisa dinilai dari almamater atau baground pendidikan. Orang yang dari almamater nggak favorit nggak selamanya lebih bodoh dari mereka yang lulusan almamater favorit. Karena kita nggak tahu, penyebab itu orang kenapa sekolah di sini nggak sekolah di situ. Bisa jadi dia sebenernya pinter, tapi waktu daftar kuliah salah jurusan atau karena nggak ada biaya.

Pokoknya, berpikir positif sajalah. Berpegant teguh pada pepatah Jawa : OJO RUMONGSO BISO, NANGING BISO O RUMONGSO. Kalau kita bisa saling menghargai dan nggak sok pinter, pasti deh kita nggak bakalan merendahkan orang lain.

Dan stop yaaa, nyinyirin orang lain, nyari kekurangan orang lain hanya untuk merendahkannya. Perlu diingat, terkadang kita nyinyir, kita merendahkan orang lain hanya karena iri, loh. Makanya, kalau di hati terpaut rasa iri, yuk bersaing dalam karya, bukannya saling nyinyir dan merendahkan.***

Witri Prasetyo AjiUncategorizedPINTER TAK SELALU BISA DINILAI ALMAMATER Sebenernya, sudah lama banget pengen cuap-cuap tentang masalah ini. Cuman, belum nemuin waktu yang pas ajah. Dan, kebetulan banget nemu status diajeng Artie Ahmad yang mak jlebbb ngena di hati. Yups, direndahkan karena pendidikan itu sakit, loh. Karena kepinteran seseorang nggak selamanya bisa dinilai dari...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments