INDIE ATAU MAYOR?

Sumber Gambar dari GOOGLE

Bicara soal penerbitan, sebagai seorang penulis (meski masih abal-abal dan amatir) sudah pasti saya kepengen kalau karya bisa terbit mayor. Bukan sekedar karena terbit di mayor itu bakalan dapat duit tanpa keluar duit dan keren karena karyanya bisa mejeng di toko buku saja, tapi terbit di mayor itu benar-benar butuh perjuangan yang ‘nggak’ mudah serta mendapatkan kepuasan batin tersendiri.

Mulai dari berusaha mengenal penerbitan mayor yang kita incar, seperti contoh penerbit X itu menerbitkan naskah genre XXX atau penerbit Y yang hanya menerima naskah genre AAA dan nggak menerima nasakah genre FFF. Selain itu, membeli salah satu atau beberapa buku yang diterbitkan penerbit mayor yang kita incar juga penting, kita bisa melihat, gaya bercerita seperti apa yang bakalan diterima penerbit tersebut. Dan setelah tahu, naskah genre apa yang diincar serta gaya cerita bagaimana yang disukai, mulailah kita menulis. Dan bagi saya, menulis novel itu butuh perjuangan ekstra. Butuh konsistensi yang tinggi agar nggak selingkuh dengan naskah lain, agar novel yang digarap bakalan selesai. Okelah setelah selesai, so pasti revisi sebelum akhirnya dikirim. Proses mengirimnya pun nggak mudah, harus melalui prosedur, harus ngantri diterima, lalu masuk seleksi hingga akhirnya kita mendapat surat cinta yang berisi diterima atau ditolak.

Sementara untuk terbit indie? Tanpa mengecilkan penerbitan indie loh yaaa (karena naskah yang di indie itu juga bisa diperhitungkan soal kualitasnya), kita nggak perlu capek-capek cari tahu naskah genre apa dan gaya cerita yang bagaimana yang penerbit suka. Asal punya naskah dan punya modal, okelah buku terbit. Tapi perlu diingat juga, terbit indie itu tidak masuk toko buku dan hanya dijual online.

Nah, di atas hanya sedikit gambaran tentang terbit indie atau mayor. Tapi di sini, saya ingin memfokuskan tentang adanya penipuan penerbitan indie. Padahal nggak semua penerbit indie seperti itu, miris loh denger katanya si A atau si B kena tipu penerbit F, penerbit G yang berlabel indie. Karena adanya penipuan yang dilakukan beberapa (saya bilang beberapa karena memang nggak cuma satu penerbit yang pernah menipu, loh) penerbit indie, bisa-bisa membuat penulis tidak lagi percaya dengan penerbitan indie. Padahal tidak semua penerbit indie seperti itu, banyak penerbitan indie yang profesional kog.

Sementara kalau ditanya kenapa penerbitan indie itu penulis mengeluarkan modal, karena untuk membuat cover, mengedit EYD sampai pengiriman buku untuk mendapatkan ISBN, pakai modal. Penerbit indie bukan penerbit mayor yang punya modal besar.

Tapi jujur, keberadaan penerbit indie tidak bisa dipandang sebelah mata. Keberadaannya harus saya akui, membantu para penulis untuk berkarya dan tidak malu mempublikasikan karyanya. Khususnya penulis pemula. Meskipun harus diakui, ada penulis senior yang tetep rajin ikut event indie sampai dijuluki ‘ratu antologi’.

Awal saya mulai mengenal penerbitan indie, saya seneng banget kalau karya saya lolos event yang diadakan oleh suatu penerbitan indie. Dapat sertifikat meski untuk mendapatkan bukunya pun saya harus merogoh kantong. Saya anggap wajar, dan saya anggap namanya juga bisnis. Meski pada akhirnya, saking banyaknya karya saya yang lolos di event indie, saya nggak semua membeli buku-buku di mana ada karya saya. Karena saya lebih memilih untuk beli buku di toko buku dan dijadikan referensi, hehehe (jujur banget). Yaaa, meski harus jujur, saya dulu ikut event indie berbayar dapat buku, dan hampir saja kena tipu. Tapi dengan bersatunya temen-temen sesama kontributor, Alhamdullilah nggak jadi ketipu dan menerima bukunya.

Dan menurut saya, entah mau menerbitkan buku secara mayor atau secara indie itu adalah pilihan. Jangan karena ada masalah penipuan di beberapa penerbitan indie, lantas kita langsung #NoPenerbitIndie. Nggak semua penerbit indie seperti itu. Wong yang mayor saja (penerbit besar) ada loh (katanya) yang royalti penulisnya nggak diberikan. Bahkan penulis harus menagih yang padahal adalah haknya sendiri.

Di sini saya enggak mau membeberkan aib penerbit ini yang menipu atau yang nggak bayar uang royalti penulisnya. Cuma sekedar bercerita. Intinya sich, jangan mengecap suatu kaum hanya karena suatu bagian kaum itu buruk (wuih bahasanya belepotan, yaaa?) Yaa, jangan mengecap semua penerbit indie penipu lantaran ada beberapa yang emang menipu. Jangan juga beranggapan buku terbit mayor terus nggak bakal dikasih royalti, karena banyak penerbit mayor yang selalu memberikan royalti di muka atau setiap bulan menurut penjualan bukunya.

Yaaa. pinter-pinter sajalah mengenal suatu penerbitan. Jikapun ada kasus, cukup dijadikan pembelajaran. :))***

Witri Prasetyo AjiBookDunia Menulis,PenulisINDIE ATAU MAYOR? Bicara soal penerbitan, sebagai seorang penulis (meski masih abal-abal dan amatir) sudah pasti saya kepengen kalau karya bisa terbit mayor. Bukan sekedar karena terbit di mayor itu bakalan dapat duit tanpa keluar duit dan keren karena karyanya bisa mejeng di toko buku saja, tapi terbit di mayor...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments