8 Hari Sebelum Kematian

dnamorabanner

“Waktumu sudah habis. Kini saatnya kau kembali,” sebuah suara yang membuatku terbangun dari tidur lelapku. Keringat dingin bercucuran dan tubuh merasa menggigil. Tiada seorangpun yang menghuni kamar mungilku—kecuali diriku sendiri.

Aku menarik nafas panjang. Kutengok kalender duduk yang berada di meja samping ranjangku, tanggal 15, delapan hari lagi adalah hari ulang tahunku yang ke-25.

“Lin, lo tahu enggak, seminggu sebelum dan sesudah hari kelahiran kita itu adalah hari kematian kita loh. Jadi, hati-hati ajah kalau dekat dengan hari kelahiran,” ucapan Anggi tempo hari kembali terngiang di telingaku.

Awalnya aku memang tak percaya dengan mitos yang Anggi ucapkan. Tapi entah mengapa, aku merasa bahwa apa yang Anggi ucapkan itu ada benarnya juga. Aku merasa bahwa waktuku sudah akan habis. Semua akan berlalu.

***

Waktumu sudah akan habis. Manfaatkan 8 hari untuk kau puaskan hidupmu.

           

Sebuah memo yang tiba-tiba berada di atas meja kerjaku. Aku menoleh ke sana-kemari, tak ada seorangpun berada di ruanganku.

“Hanya orang iseng, “ ungkapku menenangkan diri.

Aku lalu duduk dan menghidupkan komputerku. 8 hari menuju kematian, begitulah yang tertulis dalam layar komputerku. Bulu kudukku berdiri, keringat dingin bercucuran. Kembali, mataku menatap ke sekeliling ruangan. Tiada seorangpun.

Aku menarik nafas panjang. Jantungku  berdetak kencang. Entah terkena racun apa, tiba-tiba aku begitu percaya jika hidupku memang sudah tak lama lagi. Dan segera, kutulis 8 keinginan yang harus kudapatkan sebelum aku meninggal.

Day 1

Dan aku masih tak mengerti dengan pikiran konyol itu. Mati itu rahasia Tuhan, tak seorangpun akan mengetahui kapan dia mati. Entah bisa-bisanya aku percaya dengan mitos dan bisikan-bisikan itu. Sepertinya ada yang salah dengan otakku.

Akupun memulai perubahan dalam hidupku. Lebih mendekatkan diri kapadaNya sebagai bekal kehidupan dalam dimensi akhirat. Sembahyang tepat waktu, lebih bayak bersedah entah sedekah harta atau memberikan bantuan kecil bagi mereka yang membutuhkan. Sampai mengerjakan ibadah sunnah dan berusaha memaafkan mereka yang pernah melukai hatiku.

“Kau kenapa Ar? Ada yang bisa kubantu?” Tanyaku pada Arni—sahabat yang selama ini aku diamkan lantaran dia menghianatiku. Dia hanya terdiam dan bengong melihatku. Aku hanya tersenyum, lalu kubantu dia memberesi beberapa dokumen yang bercecer.

“Lain kali, hati-hati ya,” ucapku dengan alunan senyum. Kemudian aku meninggalkan dia yang masih terbengong. Mungkin dia merasa heran dengan perubahanku yang begitu tiba-tiba.

Day 2

Masih berlanjut dengan hari kemarin. Sedikit terasa lega, lebih dekat dengan Tuhan dan hati perlahan mampu memaafkan mereka yang pernah mengukir luka. Dan mungkin, kini saatnya aku mewujudkan impian yang tenggalam. Melanjutkan beberapa tulisan yang terhenti. Ya, harus kalian tahu, aku adalah seorang penulis. Buku-bukuku memang belum banyak yang terbit, tapi aku masih punya banyak tabungan naskah yang harus kupoles sebelum akhirnya aku kirimkan ke penerbit.

Dan akupun kembali bergelut dengan perubahanku, tapi hari ini semakin sibuk saja karena banyak tulisan yang harus kuselesaikan. Kopipun tiada aku lupakan, waktuku tak akan lama lagi, aku tak mau menyia-nyiakan hidupku untuk tidak menyedu kopi.

Day 3

Dan dalam kesibukan itu, entah mengapa aku kembali berjumpa dengan masa lalu. Pada cerita cinta yang pernah melukis air mata. Selama ini aku tak bisa memaafkan dan enggan berjumpa. Tapi…

“Apa kabar Nif?” Aku berusaha menyapa dan memberikan senyuman. Tapi lelaki itu masih saja seperti dulu, dingin.

Ah, aku tak peduli. Buat apa aku memikirkan hati, toh nyatanya waktuku tak akan lama lagi. Bukan waktuku untuk memikirkan dendam.

Hingga tiga hari sudah berlalu. Waktuku tinggal lima hari. Aku tak tahu lagi dengan apa yang meski kuperbuat selain mengulang kesibukan kemarin. Mendekatkan diri terhadapNya, menyelesaikan tulisan serta memaafkan mereka sang pelukis luka. Serta tentunya, aku tetap bergelut dengan ritual sehari-hari,bekerja.

“Kau berubah,” ucap Sinta kepadaku di saat kami sedang makan siang bersama di kantin.

“Maksud kamu?”

“Kau berubah menjadi baik. Tapi…” Jawabnya lalu terhenti.

“Tapi apa?” Serbuku.

Sinta menatapku lekat. “Kenapa kau berani makan hati? Bukankah itu makanan yang seharusnya tak kau makan?”

Aku menarik nafas panjang. Aku tak tahu, apakah Sinta akan percaya dengan apa yang akan aku ucapkan? Waktuku tak lama lagi. Lima hari cukup singkat.

“Buat apa aku mempertahankan hidupku jika waktuku saja sudah tak lama lagi,” ucapku setelah beberapa menit terdiam.

“Maksudmu apa? Kau tahu, kematian itu rahasia Tuhan dan tak seorangpun mampu mengetahuinya,” Sinta berusaha menekankan.

“Tapi malaikat itu sudah menitipkan pesannya untukku, Sin!” Aku bersikukuh pada pendirianku.

            “Jangan mengigau kamu!” Sinta tetap saja tak percaya.

            “Aku serius!”

            Mata kamipun saling beradu. Aku berusaha meyakinkan Sinta.

*

            8 hari berlalu. Aku tak tahu dengan apa yang terjadi dengan hari ini. Setelah semua tulisan selesai dan kuserahkan semuanya pada penerbit. Serta aku tak tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperti ketiada pedulianku, penerbit sudi menerbitkannya atau tidak.

            Dan pagi yang cerah, seperti biasanya aku pergi ke kantor. Bila biasanya aku memilih taksi atau busway, kali ini aku nyaman mengendarai mobilku.

            “Enggak saya antar saja, Non?” Tanya Mang Kardi kepadaku. Biasanya, dia yang mengantarkan ke manapun aku pergi. Tapi untuk urusan akhirat, apa dia juga akan mengantarkannya?

            Aku menggeleng.

            Dan akupun langsung meluncur ke kantor dengan mobil kesayanganku itu. Tiada yang aneh dan aku merasa seperti biasanya. Mengendalikan mobilku dengan perlahan tanpa kebut-kebutan.

            Hingga sesampainya di kantor kutemui suatu keanehan. Tiada seorangpun yang menyapaku, padahal biasanya hariku penuh senyum dan sapa. Dan anehnya, saat kutemui semua teman dekatku, mereka semua bercucuran air mata.

            Aku tak mengerti.

            “Kenapa semua ini harus terjadi. Waktu itu aku hanya iseng,” kudengar suara Fina di antara isaknya.

            “Tak kusangka, dia akan meninggal tepat di hari ulang tahunnya. ternyata malaikat memang sudah berpesan padanya,” desah Sinta dengan tatapan kosong.

            Hingga akhirnya aku menyadari, alamku dan alam mereka memang sudah berbeda. Malaikat benar, telah mengajakku pulang ke tempat yang sebenarnya.

Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway

Witri Prasetyo AjiCerpenCompetition8 Hari Sebelum Kematian “Waktumu sudah habis. Kini saatnya kau kembali,” sebuah suara yang membuatku terbangun dari tidur lelapku. Keringat dingin bercucuran dan tubuh merasa menggigil. Tiada seorangpun yang menghuni kamar mungilku—kecuali diriku sendiri. Aku menarik nafas panjang. Kutengok kalender duduk yang berada di meja samping ranjangku, tanggal 15, delapan hari...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments