SUARA MAMAH MUDA DI HARI KARTINI

 

SUARA MAMAH MUDA DI HARI KARTINI. Hallo para perempuan Indonesia, apa kabarnya? Sebelumnya, mamah muda mau mengucapkan ‘Selamat Hari Kartini’ bagi perempuan Indonesia dan terima kasih banyak kepada Ibu Kita Kartini atas perjuangannya yang hebat bagi kaum perempuan.

Okelah, di hari Kartini ini mamah muda mau sedikit bercuap-cuap soal perempuan dan perjuangan Kartini. Mamah muda yakin kok, Ibu Kartini memperjuangkan kaumnya itu dengan tujuan yang baik. Meski ingin sejajar dengan kaum lelaki, pasti juga tidak ingin kalau para perempuan itu tidak menghargai lelaki. Karena satu hal yang perlu diingat, “setinggi-tinggi derajad perempuan, tetap saja tidak bisa mengangkat derajad laki-laki”. Seperti contohnya ya, yang perempuan jadi dokter, lakinya enggak, so pasti ada panggilan bu dokter tapi jarangkan lakinya dipanggil pak dokter. Tapi sebaliknya, misalnya lakinya jadi guru, eh perempuannya jadi ikutan dipanggil bu guru. Iya enggak? Kalau di tempat mamah muda mah begitu. Hehehe.

Suara Hati Mahmud

Baca : Kartini di Mata Saya

Lagi pula ya, mamah muda yakin, Ibu Kartini memperjuangkan kaumnya itu demi anak cucunya. Secara ya, jadi perempuan itu kudu pinter, kalau mamah muda mah—menurut mamah muda—jadi perempuan juga harus berpendidikan tinggi. Kenapa? Biar sejajar sama lakinya? Enggak juga, tapi kan perempuan itu bakalan berperan sebagai ibu yang enggak Cuma mengandung dan melahirkan saja, tapi bakalin ngajarin anaknya dari A sampai Z, dari belajar ngomong sampai belajar etika, makanya jadi perempuan itu kudu pinter, kalau bisa malah berpendidikan tinggi.

So, mamah muda itu setuju banget dengan cita-cita Ibu Kartini kalau para perempuan juga harus sekolah. Tapi, mamah muda kurang setuju tuh kalau ada perempuan berpendidikan tinggi terus enggak mau mengurus anaknya dan apalagi enggak bisa menghargai suaminya. Yang begitu, mamah muda sangat-sangat enggak setuju. Okelah memperjuangkan karier, tapi mbok ya tetep ingat kodratnya perempuan. Ngurus anak itu tugasnya perempuan, ya meskipun kita punya karier dan bisa bayar babysitter, tapi apa ya mau kalau anaknya ngembok sama babysitter dan enggak kenal sama ibunya? Apa ya mau kalau kita sudah tua nanti dibalas anaknya dititipin ke panti jompo karena sewaktu anaknya kecil kita juga enggak ngurusin? Oh NO, mamah muda tidak bisa membayangkannya.

Screenshot_2016-04-21-09-43-39

Okelaah, sebagai perempuan harus punya karier, apalagi pendidikannya tinggi, kan mamah mudang banget kalau ijzahnya Cuma digadein buat jadi ibu rumah tangga. Oke, mamah muda menghargainya. Wong mamah muda juga perempuan karier kok, mamah muda ini momworking dan bukan full mom yang bisa stand by di rumah. Tapi tetap, ngurus anak dan malayani suami itu enggak boleh ditinggalin. Soal kapan, meski berkarier kan kita juga punya waktu di rumah, enggak melulu ngurusin kerjaan, so, pintar enggaknya bagi waktu ya terserah kita sendiri.

Baca : http://ceritabundabersama.blogspot.co.id/2015/11/siapa-bilang-irt-nggak-bisa.html

Mamah muda sih enggak jadi soal kalau perempuan memilih bekerja ataupun sudah pasrah jadi ibu rumah tangga. Mamah muda yakin kok, mereka yang memilih bekerja itu juga tidak semuanya berpendidikan tinggi, dan sebaliknya, mereka yang memilih jadi ibu rumah tangga juga banyak yang berpendidikan tinggi. Semua sih pilihan, dan mamah muda enggak berhak menyalahkan ataupun menghakiminya.

Ya hanya saja terkadang mamah muda miris, merasa derajad kaum perempuan sejajar sama kaum lelaki, terus seenaknya dan enggak menghargai kaum lelaki. Yang ini mamah muda memang kurang setuju banget. Mamah muda yakin, tujuan Ibu Kartini memperjuangkan kaum perempuan enggak begitu tujuannya kok. Seperti yang mamah muda jelaskan di atas, perempuan harus pintar dan bersekolah karena perempuan berperan sebagai ibu, bukan untuk menjajah kaum lelaki. Toh, bagaimanapun keadaan lelaki, lelaki tetap kepala keluarga, kan? Jadi miris aja, kalau dengar atau liat, seorang perempuan dengan pendidikan tinggi dan karier bagus tapi ogah ngurus anak dan melayani suami, apalagi enggak menghargai suami dan malah menjadikan suaminya itu babu, secara agama yang mamah muda anut, durhaka dan dosa tauk…

Nah, di hari Kartini ini, mamah muda berharap banget, perempuan Indonesia bersemangat untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya tapi jangan pernah meremehkan kaum lelaki. Yups, seenggaknya pendidikan tingginya itu untuk anak cucunya kelak, bukan untuk menyaingi pasangannya. Sementara soal karier, mamah muda enggak jadi soal, toh mamah muda sendiri juga seorang momworking kok. Pengen kerja atau jadi ibu rumah tangga itu pilihan, mamah muda enggak berhak menghakimi, apalagi kehidupan setiap orang berbeda-beda.

Okelah, itu sekelumit suara hati seorang mamah muda di hari Kartini.

#SelamatHariKartiniPerempuanIndonesia

Witri Prasetyo AjiDiarySUARA MAMAH MUDA DI HARI KARTINI   SUARA MAMAH MUDA DI HARI KARTINI. Hallo para perempuan Indonesia, apa kabarnya? Sebelumnya, mamah muda mau mengucapkan ‘Selamat Hari Kartini’ bagi perempuan Indonesia dan terima kasih banyak kepada Ibu Kita Kartini atas perjuangannya yang hebat bagi kaum perempuan. Okelah, di hari Kartini ini mamah muda...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments