BELAJAR ILMU KEHIDUPAN DARI PARA BLOGGER

 

BELAJAR ILMU KEHIDUPAN DARI PARA BLOGGER. Bicara soal kehidupan, setiap manusia terlahir dan tercipta dengan takdirnya masing-masing. Kita tidak bisa menawar ataupun mengubahnya, kecuali atas kehendak Yang Kuasa.

Tiada yang sempurna di dunia ini. Apa yang terlihat, terkadang tiada sama pada kenyataannya. Dunia memang penuh kepalsuan. Dan manusia, penuh ketidakpuasan.

***

Semenjak saya memberanikan diri terjun ke dunia blogger, banyak sekali ilmu kehidupan yang saya dapatkan. Berkenalan dengan si A, B, C sampai dengan Z. Bergabung dengan grub dunia maya maupun dunia nyata. Sering sharing bahkan berkunjung ke blog kawan yang terkadang di blognya disisipi diary kehidupannya. Ya, mungkin zaman saya SMP atau SMA, nulis diary itu masih dibuku ukuran kecil, dirahaisakan sampai-sampai digembok atau dikunci kode ala koper. Tapi sekarang? Banyak yang tak malu-malu mencurahkan isi hatinya di blog—termasuk saya.

Lantas, apa tujuannya curhat di blog?

Curhat di blog, apa tujuannya? Mencari perhatian? Biar banyak yang kasihan? Oh tidak, hidup tak serendah itu. Setidaknya, mencurahkan isi hati itu mengurangi sedikit beban. Soal kenapa di blog, saya hanya berharap kisah saya bisa bermanfaat atau menjadi pelajaran bagi orang lain. Bukan maksud membagi duka, hanya sekedar mencurahkan rasa. Bukan pula mengharap perhatian atau mengemis kasihan.

Karena disadari atau tidak, membaca atau mendengar kisah orang lain itu memberikan pelajaran tersendiri bagi diri sendiri. Lebih membuka mata, bahwa hidup tak selamanya indah, namun tak selamanya suram.

Saya, seorang yang pernah gagal di masa lalu. Pernah depresi meski tak parah, bahkan penyesalan itu terkadang masih menghantui. Bahkan saya sering menganggap Tuhan tidak adil, tapi setelah saya membaca cerita kawan di blognya maupun digrup, saya mampu merasa bersyukur karena di luar sana ada yang lebih menyakitkan dari saya. Dan dari mereka, saya belajar arti kehidupan, hidup harus tetap berlanjut dan saya harus kuat. Jangan pernah kalah pada kegagalan, karena sebenarnya kegagalan adalah jalan menuju kemenangan.

Baca : Sejarah Hidup Witri Prasetyo Aji

Kegagalan di Masa Lalu…

Kegagalan-kegagalan saya tiada artinya bila dibandingkan dengan luka kawan-kawan yang akhir-akhir ini saya baca. Memang, kehidupan berbeda jauh semenjak kejadian itu terjadi. Bahkan sampai sekarang, terkadang saya merasa hidup tidak bahagia meski kenyataannya saya mampu bahagia bersama anak dan suami serta keluarga yang begitu menyayangi saya.

Bermula dari masa SMA yang indah. Iya, saya menganggap masa SMA saya begitu indah karena saya mempunyai sahabat seperti Hanifa, Dian, Rini, Ruben, Ajeng, Uun, Aan, Ali, Toper, Ana dan masih banyak kawan yang tak bisa saya sebutkan. Sampai saat ini, melalui dunia maya, hubungan silahturahmi kami juga masih berlanjut.

Baca : Masa SMA, Masa Yang Paling Indah

Masa SMA begitu indah bersama sahabat dan sedikit buram masalah cowok yang sebenarnya masih tergolong cinta monyet. Tapi begitulah hidup, harus penuh warna meski cerah, meski gulita.

Dan di antara keindahan masa SMA di mana saya ini tergolong anak yang bandel lantaran suka main tapi sedikit malas belajar, hehehe. Dan sering, saya malah asyik menulis novel di buku tulis ketimbang mengerjakan Pe-Er (yang ini jangan ditiru, ya?). Tetapi, saya ini termasuk siswa yang rajin, rajin berangkat sekolah meski pada akhirnya tiduran di UKS, rajin ikut ekskul dan nongkrong-nongkrong di masjid sekolah.

Ekskul yang saya ikuti adalah Pramuka (suka banget kalau kemah), Senam, Karisma (Kajian Rohani Islam). Iya, saya yang bandel setidaknya punya pegangan. Meski kala itu saya belum berjilbab, tapi saya ikut Karisma dan sering mendengarkan tausiyah dari Pak Guru Agama. Ingat betul dngan Pak Jayin. Apalagi Pak Jayin ini suka menyuruh murid-muridnya menghafal ayat-ayat Al Qur’an yang ada di LKS, tapi saya kerap sekali berhutang lantaran belum hafal.

Masa yang indah. saya tidak pernah membedakan kawan. Dari kesekian kawan, ada yang hidup dengan keluarganya yang utuh dan sempurna (seperti saya), ada yang keluarganya broken home, ada yang tidak punya ayah dan masih banyak hal-hal lain yang begitu pelik. Di masa SMA, saya memang sangat happy dan menikmati. Saya punya orang tua yang begitu menyayangi saya dan selalu memberi fasilitas meskipun saya bukan dari kalangan berada, setidaknya saya tidak ketinggalan dari kawan yang lain.

Dan dari keberuntungan itu, keluarga dan sahabat, saya ingin membaginya dengan kawan yang lain. Hingga saya lupa, saya terlalu polos, berkawan dengan siapa saja meski dia berandal, saya terlalu baik. Dan saya tak peduli tatkala orang yang saya cintai mengingatkan. Toh saya happy dan mereka—kawan saya—tak membawa pengaruh buruk pada saya. Mereka jadi berandal, bahkan ada kawan cewek yang miras, merokok dan narkoba, itu karena mereka tak mendapatkan perhatian dari keluarga, mereka tak seharusnya kita kucilkan, tapi seharusnya kita rengkuh dan kita ajak menuju jalan yang benar.

Naik ke kelas 3 SMA

Masa itu tetap indah. Meski saat liburan saya mengidap penyakit dalam yang berhubungan dengan ginjal. Kekurangan albumen dan saya harus menginap di rumah sakit serta merta 2 tahun hidup bergantung obat dan pengawasan dokter. Tapi kalian tahu? Rumah sakit tak pernah membuat saya sepi. Kawan dan sahabat datang silih berganti, apalagi Ruben (Sri Rahayu), dia hampir setiap hari datang ke rumah sakit dan menyuapi saya saat makan siang. Dan hampir 3 bulan saya tidak berangkat ke sekolah, tentunya banyak tugas yang terlewatkan. Tapi ada sahabat, yang akhirnya membantu tugas-tugas saya.

Sakit fisik tak membuat hidup berkahir. Semua tetaplah indah. meski orang yang saya cintai sudah 2 kali direbuta sahabat. Itulah saya. Entah karena saya terlalu baik, atau justeru terlalu bodoh. Tapi ya sudahlah, sahabat tetap menggenggam tangan saya dan memberikan semangat pada saya.

Baca : Sinopsis Love Is Friendship

Dan masa SMA pun berakhir. Sementara pengobatan dokter belum berakhir. Saya memang mendaftar ke Universitas sana-sini. Ada yang keterima ada yang tidak. Tapi saya ragu, hingga akhirnya memutuskan kuliah tahun depan. Babe menyetujuinya. Saya mampu tersenyum. Ah, setidaknya Babe cukup memikirkan biaya pengobatan saya.

Tragedi Januari 2009

Saya masih berkutat dengan buku SMA. Belajar dan belajar. Tahun ini saya mau kuliah, sementara pengobatan Insha Allah akan selesai bulan depan. Bersyukur dan bayangan masa kuliah yang konon katanya menantang itupun sudah menari dalam angan.

Tapi… akhir Januari 2009 seorang pemuda tetangga desa melamar saya. Saya tak mengenalnya, namun saya tahu kalau dia itu berseteru dengan pemuda yang tengah dekat dengan saya. Ya, kala itu saya dekat dengan pemuda berpendidikan lulusan SMA dengan wajah yang cukup menawan. Saya dekat, meski hati sebenarnya tidak. Kenapa? Karena dia ada disaat saya patah hati. Bagaimana saya tak patah hati? Jika dua kali saya mencintai, tapi selalu dihianati dengan sahabat-sahabat saya. Argh, begitukan pedih kisah cinta SMA saya?

Semua berubah. Entah kenapa orang tua langsung menyetujuinya dan melupakan janji mereka tentang kuliah saya. Saya tahu, orang tua bukan tipekal orang tua yang matere. Wong kala itu saya juga dekat dengan kawan yang berada kok. Tapi entahlah, pemuda pelamar itu memamerkan hartanya dan orang tua menyetujuinya.

Saya tahu, Babe setuju bukan karena materi. Tapi melihat sosok pemuda itu yang sok alim dan saya juga paham tipekal Babe yang tidak ingin mengecewakan orang. Tapi tahukah kalian, justeru Babe mengecewakan saya. Saya sudah menolak secara langsung kepada pemuda itu, tapi pemuda itu justeru memaksa orang tua untuk segera diadakan pesta pernikahan. Argh, bagaimana saya tidak hancur. Harapan kuliah lebur begitu saja dan saya harus menikah dengan pemuda tak saya kenal? Padahal saya sosok yang mengagungkan cinta dan hanya mau dimiliki oleh orang yang saya cintai. Toh kala itu usia juga baru menginjak angka 18, rasanya masih terlalu dini jika saya harus menikah. Dan tiada jalan lain selain kabur meski hanya beberapa jam dan Babe menemukan saya, dan sayapun dicaci karena menolak lamaran. Yah, namanya juga di kampung, nama baik keluargapun tercoreng atas sikap saya. Mungkin, saya durhaka.

Sementara soal pemuda yang tengah dekat dengan saya? Saya dekat tapi tak cinta. Tapi semua berubah, bayangannya kok selalu dalam angan. Tapi orang tua melarang hubungan kami. Karena saya habis menolak pemuda pelamar kok malah memilih pemuda berandal. Sayapun juga tak habis pikir. Hingga akhirnya saya mendapati kenyataan ketika kawannya mengakui, kalau pemuda pelamar main dukun. Saya masih tidak yakin, zaman sudah internet kenapa ada pelet? Dukunnya mana saja juga dijelaskannya. Dan kalian tahu, saya sering tirakat dan harus lebih mendekatkan diri pada Tuhan agar pelet itu keluar dari tubuh saya. Sholat 5 waktu, ngaji, puasa, tahajud, semua saya jalani.

Hingga waktu bergulir. Saya terpisahkan dengan pemuda yang dekat dengan saya. Wah, ibarat cinta tak direstui. Terluka dan entah rasa apa yang saya nikmati. Sementara pemuda pelamar masih ngotot ingin mendapatkan saya. Saya bersikeras menolak dan saya sempat mau bunuh diri. Bagaimana tidak? Saya dikurung di rumah selama 2 tahun, kehilangan kontak bersama sahabat SMA, bahkan kawan di kampung juga tidak boleh menemui saya, HP dan sepeda motor disita, hanya televisi yang menjadi hiburan. Saya sempat seperti orang linglung dan hampir gila, apalagi adik saya begitu berani dan tak menghargai saya. Sementara omongan orang di luaran, masih memandang saya sebelah mata.

Pendidikan itu penting…

Terlahir dari keluarga Mama yang memang mementingkan pendidikan, sementara keluarga Babe menganggap pendidikan itu tak penting. Kisah para pemuda itu hadir tak lepas dari campur tangan keluarga Babe yang sepertinya tak menyukai jika saya kuliah. Saya tahu, keluarga Babe sayang sama saya, mencarikan jodoh pemuda bermateri agar hidup saya kelak tak kesusahan secara ekonomi. Tapi kembali lagi perkara hati, saya tidak bisa menikah dengan pemuda yang tidak saya cintai.

Ada Pakdhe dari Babe (Pakdhe sepupu, ini beda dari ke empat saudara Babe) yang menawari saya kuliah. Ya, saya kuliah di Universitas Boyolali yang notabenenya Universitas baru. Jurusan Sastra yang sebenarnya saya incar karena saya suka menulis, tak ada. Saya yang sebenarnya buta soal Informatika akhirnya masuk Tehnik Informatika. Ya, saya mau kuliah agar saya bisa keluar rumah, punya kawan dan tidak gila. Memilih Tehnik Informatika agar dibelikan leptop Babe dan saya bisa menulis. Sudah itu saja…

Dan waktu berlanjut. Saya terlepas dari pemuda pelet, tapi pemuda pelamar tetap berkoar jika saya mau menjadi isterinya. Hingga akhirnya saya mendengar berita, pemuda pelamar menghamili gadis tak punya namun tak dinikahinya dan dia justeru menikah dengan gadis berada. Argh, kenyataan itu seolah memukul kedua orang tua saya. Akhirnya mereka tahu, pemuda pelamar yang bertandang laksana ustad itu tak lebih dari seorang penzina. Sayapun, mampu bernafas lega.

Masih dalam kesendirian…

Trauma pada kisah cinta masa lalu seolah membuat saya menjadi jomblo abadi. Suka berkawan dengan mereka tapi menolak cinta mereka. Saya memang tidak cantik, tapi bukan berarti tiada cinta untuk saya. Bukan menyombongkan, tapi saya menolak cinta mereka meski pada akhirnya seorang Wendi menjerat saya dengan caranya.

Baca : Menikah Tanpa Persiapan dan Pantai Cerita Tentang Kita

Saya selalu menolak setiap cinta yang datang. Saya menganggap, saya mampu hidup sendiri. Tak peduli meski banyak yang bilang tak laku atau apalah-apalah. Tapi kesendirian membuat saya menikmati kehidupan.

Hingga seorang Wendi datang, mulai dari berkirim SMS, dianya sok curhat dan bila saya menjauh dia bilang, “enggak mau kenal saya karena saya enggak punya, ya?” Itu adalah kalimat yang memuakkan. Saya paling benci jika ada kawan yang bilang saya enggak mau berkawan karena materi. Hello, saya memang pecinta uang tapi saya bukan pembeda materi. Okey?!

Mulai dari curhat sampai dia ngajak pura-pura pacaran lantaran saya suka menolak dia dia dan dia. Dan akhirnya cinta datang, kami jadian, hingga akhirnya menikah.

Soal cerita saya dari PDKT sampai menikah, Baca : #30HariMenulisSuratCinta

Bayangan masa lalu dan Almamater…

Kalian tahu kenapa saya lebih menyukai menulis dan ngeblog dari pada pekerjaan dunia nyata? Karena dalam menulis dan ngeblog saya mendapatkan keadalian. Semua seolah dinilai dari hasil karya bukan karena almamater.

Kalian tahu, terkadang saya terluka. Dalam pekerjaan dunia nyata saya, gelar adalah hal kewajiban. Almamater adalah simbol kepandaian. Sementara kalian tahu, almamater saya belum menjadi almamater yang patut dibanggakan meski saya tetap bangga pada Universitas Boyolali. Bagaimana tidak bangga, saya juga mendapatkan ilmu kok seperti tentang kode html, edit video dan foto.

Dalam dunia nyata, saya terluka tatkala para kawan memamerkan almamater kebanggannya. Bahkan ada yang tak segan menganggap rendah almamater saya. Apa yang saya bisa disepelekan, padahal mereka belum tentu mampu mengerjakan apa yang saya kerjakan. Jika sedikit saya tak mengerti persoalan komputer, ada yang celetuk : “S.Kom kok enggak bisa…”

Baca : Pintar Tak Selalu Dinilai Dari Almamater

Kalian tahu, semua beban mental. Kepandaian/kepintaran saya tak diakui lantaran almamater. Saya tahu, saya memang tak sepandai itu, tapi setidaknya saya bisa melakukan sesuatu yang kawan tak bisa lakukan. Seolah tak dihargai. Sementara dalam dunia menulis dan blogger, gelar bukan pengaruh penting selain karya yang dihasilkan. Dan terkadang saya sedih, tatkala mereka menyepelekan dan memandang sebelah mata. Meski tak semua, tapi sikap seolah tak menghargai itu yang terkadang mengukir kecewa.

Soal keluarga kecilku…

Bahagia mempunyai suami yang selalu mendukung setiap langkah (kopi dan pizza adalah suguhan dari suami tatkala saya begadang menulis atau ngeblog) dan setia tentunya. Suami tak pernah protes selagi apa yang saya lakukan masih pada jalan yang bermanfaat.

Ya, saya bahagia mendapatkan suami yang sangat mencintai saya, mertua yang baik dan ipar yang sudah seperti adik sendiri. Setidaknya, di keluarga besar suami dari pihak Mama Mertua, saya dan keluarga saya mendapatkan tempat yang baik dan saya sangat bersyukur.

Adakah keluarga besar suami yang tak menyukai?

Bohong jika saya bilang TIDAK. Wong saya sempat minta pisah sama suami gegara sepupu suami (dari pihak Bapak Mertua). Sering dinyinyirin mulai dari saya memberi nama Arjuna pada anak saya sampai kenapa saya masih  mau dengan fasilitas dari orang tua saya, ya jelas mau, meski saya sudah bekerja dan berpenghasilan, saya akui saya masih bangga kok pakai fasilitas dari orang tua, karena saya justeru malu kalau berlagak sok kaya tapi fasilitas pinjam tetangga.

 

Baca : Arjuna…

Soal kenapa enggak malu sama fasilitas orang tua, saya tahu orang tua mendapatkan fasilitas itu enggak mudah dan demi anak-anaknya. Saya sekarag juga seorang mama, saya bangga bisa memfasilitasi anak, nah orang tua saya pastinya juga bangga to bisa memfasilitasi saya. Makanya saya enggak malu, wong saya enggak merugikan orang lain kok.

Saya tipekal apa adanya. Kalau beli sesuatu pakai uang saya, ditanya orang ya pakai uang saya, pakai uang suami, orang tua atau mertua bahkan adik ipar, ya jawabnya apa adanya. Soal malu dan enggak, kalau berbohong justeru lebih memalukan.

Kembali ke keluarga besar suami yang tak menyukai. Ini yang sering menjadi pemicu pertengkaran antara saya dan suami—saya sempat minta pisah. Bagaimana tahan dinyinyirin.

Saya itu kan tipekal kalau sudah sakit hati sulit memaafkan dan enggan bertemu, sementara suami sangat menghargai keluarga besar Bapak Mertua, dan dulu saya sering dipaksa ikut kumpul. Bagaimana bisa tahan kalau dikomentarin melulu?

Hmm. Sepertinya sudah terlalu panjang saya berceloteh. Saya cukupkan sekian cerita saya kali ini. Tulisan ini hanya sebatas curahan hati, maaf bagi yang tidak berkenan. Saya hanya ingin membagi cerita kok, kalau ada saran dan kritik saya menerimanya.

Tulisan ini saya tulis antara emosi dan tidak, jadi sekali lagi maaf bila ada kata-kata kasar.

Witri Prasetyo Aji

Witri Prasetyo AjiDiaryBELAJAR ILMU KEHIDUPAN DARI PARA BLOGGER   BELAJAR ILMU KEHIDUPAN DARI PARA BLOGGER. Bicara soal kehidupan, setiap manusia terlahir dan tercipta dengan takdirnya masing-masing. Kita tidak bisa menawar ataupun mengubahnya, kecuali atas kehendak Yang Kuasa. Tiada yang sempurna di dunia ini. Apa yang terlihat, terkadang tiada sama pada kenyataannya. Dunia memang penuh...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments