MENIKAH KARENA CINTA

ATAU

MENIKAH KARENA USIA?

MENIKAH KARENA CINTA ATAU MENIKAH KARENA USIA? Menikah karena apa, ya? Mungkin kalau saya sih karena dua-duanya. Padahal saya menikah di usia 22, menurut saya sih itu usia yang masih muda. Etapi, kalau di daerah saya, usia 22 sudah masuk perawan tua. Secara ya, baru lulus SD/SMP saja sudah nikah, paling banter lulus SMA. Jangan ditanya soal pendidikan, meskipun zaman sudah modern, di tempat saya tinggal itu pendidikan bukan menjadi soal penting. Lah wong enggak sekolah saja bisa dapat duit, kenapa sekolah tinggi-tinggi? Buang-buang duit, begitu pikir mereka.

Dan jujur saja, pengen meneruskan ke jenjang kuliah itu butuh kekuatan ekstra. Ya, meskipun sekarang sudah ‘agak’ banyakan sih anak-anak tempat saya yang kuliah. Tapi sewaktu itu, teman-teman sepantaran saya enggak ada yang kuliah. Jadi, saya butuh tenaga super ekstra buat meyakinkan orang tua soal kuliah. Padahal waktu itu, orang tak dikenal dari kampung sebelah ada yang melamar saya. Perjuangan semakin ekstra.

Baca : Belajar Ilmu Kehidupan Dari Para Blogger

Menikah di usia dua-dua, sebenarnya memang sudah menjadi cita-cita sih. Dulu, sewaktu SMA, lulus SMA usia saya baru 17. Dalam angan, kuliah paling mentok 5 tahun, ya udah terus nikah. 17 ditambah 5 kan 22. Padahal lulus SMA saya mah jomblo, kok ya pede banget waktu itu saya mikir bisa nikah di usia 22. Sama siapa coba?

Memang sih, endingnya juga teuteup nikah di usia 22, tapi saya belum lulus kuliah *nangis guling-guling. Lulus SMA saya enggak langsung nerusin. Kerja juga enggak. Saya nganggur di rumah selama 2 tahun, apalagi si pelamar terus maksa padahal sudah ditolak. Butuh tenaga ekstra lagi dan jujur saja saya hampir putus asa soal kuliah. Tapi seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah sih bisa kuliah meski sampai 6 tahun skripsi belum kelar… wuaaaa

Iya, waktu itu saya nikah di semester 6. Banyak loh yang mengira saya nikah karena MBA, padahal sih enggak. Wong saya ijabnya bulan Juni 2013, anak saya lahir November 2014. Bisa dihitung kan berapa jaraknya? Hehehe. Ya, meskipun pas lairan saya dan suami juga dikira anak SMA yang hamil duluan. Hahaha. Ini mah mungkin karena efek keawetmudaan saya dan suami kali ya? *Sok PeDe.

Baca : Pernikahan Tanpa Persiapan

Yup, nikah di usia 22, karena cinta apa karena usia? Dua-duanya dong. Usia menurut saya sudah pantes, ntar kalau punya anak biar enggak tua-tua banget. Lagian orang tua juga ngasih deadline sampai usia 25. Tapi Alhamdulillah kan, 22 sudah nikah, enggak kelewat deadline.

Ditanya soal cinta? Duh, ini mah bikin baper. Apa lagi yang harus saya pertanyakan pada suami? Hehe. Soal perasaan jangan ditanya. Saya ini tipekal perempuan yang sulit jatuh cinta, sekalinya mencintai ya setia sampai mati. *wuih, bahasa gue?

Memang sudah takdir bin jodoh kali ya? Saya waktu itu nyari sosok yang serius, dan harus lebih dari saya (lebih tua, lebih dewasa, lebih pintar dlln…). Saya ini perempuan manja dengan tetekbengek maunya dimong, dan Alhamdulillah sih segala tetekbengek itu saya dapatkan dari suami. Saya tahu, sebenarnya suami itu sosok dengan emosional tingkat tinggi, tapi kok ya bisa sabar menghadapi saya yang manja dan terkadang apa-apa enggak setuju, mungkin karena cinta kali yaaa?

Lelaki Yang Enggak Saya Suka…

Suami adalah jawaban dari Tuhan. Bersyukur banget, Tuhan mengirimkannya untuk saya. *uhuks. Ya, meski saya juga enggak bisa bohong sih, 5 tahun kebersamaan itu juga diwarnai dengan canda tawa suka duka bahkan saya sempat berantem dan pengen pisah padahal sudah nikah dan punya anak. Tapi abaikan, itu adalah bumbu-bumbu rumah tangga yang menambah keharmonisan hubungan kami.

Dan sebelum ketemu suami, saya sempat lama menjomblo loh. Enggak laku? Ah, enggak juga, ada yang nyatain cinta ke saya tapi saya tolak. *Yang ini super pede. Seperti yang saya jelaskan di atas, saya itu tipekal perempuan sulit jatuh cinta. Saya mendingan jomblo deh daripada pacaran sama lelaki yang enggak saya suka hanya demi menjaga gengsi semata. Toh jomblo itu juga bukan strata terendah kan? Jomblo hanyalah suatu kondisi di mana kita ingin bahagia bersama kawan dan sahabat. Wuaaa…

Dan waktu itu, saya berdoa sama Tuhan agar saya dijauhkan sama beberapa tipekal lelaki seperti di bawah ini :

  1. Lelaki Beda Agama

Duh, saya nyari imam, lah kalau beda agama gimana? Seganteng dan sekaya apapun dia, kalau beda agama itu? Syulit bin angel (enggak gampang). Enggak bisa bayangin deh kalau sudah cinta terus terpisah, atau saya harus murtad. No! BIG NO!

  1. Brondong

Saya kan maunya dimong, enggak mau momong. Sementara brondong. Duh, brondong itu pantesnya jadi adek, bukan jadi pasangan.

Jangan ditanya apakah saya pernah pacaran sama brondong, saya pernah deket dan dideketi brondong enggak hanya sekali dua kali, tapi menurut saya sih ya sebatas teman saja, enggak lebih, dan memang enggak pernah berharap lebih. Menghadapi lelaki yang seumuran saja terkadang bikin saya stress apalagi menghadapi brondong. Ya, meskipun saya sadar sih kalau kedewasaan seseorang itu tidak bisa ditentukan dari usia, tapi pacaran sama brondong? Maaf, saya enggak bisa…

  1. Lelaki Gendut

Enggak tahu kenapa saya enggak suka saja sama lelaki gendut. Menurut saya kurang seksi saja. Makanya, saya mewanti-wanti suami supaya ngejaga badannya dan jangan gendut ya sayang… Rajin-rajinlah futsal atau lari-lari gitulah. Hehehe.

  1. Lelaki Berewokan

Berewokan itu geli. Padahal berewokan itu sunah ya dalam agama saya. Tapi… Enggak. Geli tauk. Makanya, saya itu enggak pernah bosan ngingetin suami supaya mencukur berewok atau jambangnya.

Yes, Alhamdulillah Tuhan menghindarkan saya dari kesekian tipekal lelaki itu. Lelaki-lelaki itu bukan jelek atau apa sih, Cuma setiap orang kan punya tipe dan prinsip yang berbeda-beda. Saya sih no problem kok kalaupun ada teman yang pacaran beda agama dan akhirnya nikah sampai keluar dari agamanya. Itu HAK mereka. Saya kalau soal teman juga enggak pernah beda-bedain agama, ngucapin selamat hari rayanya yang katanya dosa pun saya enggak masalah selagi saya belum tahu mana dalil yang melarangnya. Toh ada ulama yang membolehkan dan melarang, jadi saya ikuti apa kata hati dan kepercayaan saya saja.

Saya juga no problem kok melihat pasangan yang lebih tuaan si ceweknya. Lagi-lagi itu HAK mereka. Cuma maaf, saya enggak bisa. Malu saya mah kalau pacaran sama brondong. Padahal sebenarnya enggak malu-maluin, hanya saja kalau tuaan si cewek itu sering bikin kuping panas. *pengalaman teman. Dan ngomongin pengalaman temen, malah ada loh temen kantor yang merasa harkat dan martabatnya terjatuh kalau dia pacaran sama berondong. Duh, segitunya. Saya sih enggak, ya enggak suka saja dan jujur saja malu. Heheh.

Lelaki gendut dan berewokan, enggak jelek sih. Tapi kalau saya enggak suka mau gimana?

Dari sekian tipe itu, saya sih oke-oke aja berteman sama mereka. Yang jadi masalah kan saya enggak bisa kalau punya pasangan seperti itu. Dan Alhamdulillah sih enggak ada dari sekian tipe itu yang dimiliki sama suami saya.

Kembali lagi ke topik, menikah karena cinta atau menikah karena usia. Yup, bagi saya perempuan itu tidak bisa menunggu. Meski zaman sudah emansipasi bin modern, terlalu lama sendiri bagi seorang perempuan itu juga kurang baik. Bagaimanapun juga perempuan itu butuh lelaki yang melindunginya. Tapi jika belum ketemu?

Jodoh itu rahasia Tuhan. Enggak ada istilah perawan tua. Kalau jodoh tak kunjung datang, dekatkan diri sama Tuhan dan berikhtiar. Semua itu sudah diatur sama yang Kuasa. Mungkin Tuhan ingin kita lebih lama sendiri supaya pas nikah nanti kita sudah sukses. Enggak jadi masalah kok terlalu lama dalam kesendirian, tapi sebagai manusia yang hidup bermasyarakat, enggak bisa dipungkiri status perawan tua itu sering dipandang sebelah mata.

Menikah sama lelaki?

Mungkin bagi sebagian perempuan, terlalu lama sendiri karena belum mendapatkan lelaki yang menurutnya cocok. Ya, semisal saya punya tipe, ini dan itu.

Tipekal lelaki yang pantas saya jadikan suami waktu itu ya yang seperti suami saya. Cinta sama saya, beragama, mau bekerja keras, setia. Soal mapan  atau belum, saya menikah saat suami belum mapan dan dia baru lulus kuliah. Khawatir dengan perekonomian? Enggak! Rejeki sudah diatur sama Tuhan. Yang penting dia mau bekerja buat menghidupi anak isteri. Yups, saya enggak suka lelaki yang pemalas. Enggak ada harapan mah bagi saya.

Etapi saya juga enggak menyalahkan bagi sebagian perempuan yang lebih memilih lelaki mapan. Toh kehidupan setelah menikah apalagi sudah punya anak itu yang namanya duit ngalirnya mah cepet. Kehidupan berumahtangga enggak bisa kenyang makan cinta doang. Dan menurut saya sih sah-sah aja kalau ada perempuan yang pengen nikah kalau pasangannya udah mapan.  Apalagi kalau buat mencukupi gaya hidup, kemapanan itu penting.

Soal beragam dan setia. Lelaki itu calon imam, dia harus tahu agama. Kalau agama saya ya, seenggaknya dia bisa jadi imam sholat dan bisa adzan. Anak yang baru lahir kan harus diadzani, gimana jadinya kalau ayahnya enggak bisa adzan? Tapi kalau saya waktu itu, calon suami saya juga harus khatam Al Qur’an sih. Yup, baca Al Qur’an menurut saya sih wajib aja. Hehehe.

Soal setia, Inshaa Allah mengikuti agamanya. Lelaki beragama, tahu dosa, kemungkinan selingkuh mah tipis tapi enggak tahu kalau kemungkinan poligaminya. Hehehe. Kalau saya sih sudah ada perjanjian sama suami, saya enggak mau dipoligami. Saya bisa berbagi segala hal sama perempuan lain, tapi maaf kalau berbagi suami saya enggak bisa.

Dan dari rentetan cerita di atas, itu hanya sedikit alasan kenapa saya nikah di usia 22. Iya, karena saya sudah terlanjur cinta sama suami dan usia juga sudah cukup buat menikah. Tapi bukan itu saja sih yang menjadi alasan, mungkin karena memang sudah takdir juga.

Dan buat kawan yang sampai sekarang masih dalam kesendirian, yakin saja kalau jodoh itu tidak akan tertukar dan dia akan datang di waktu yang tepat. Mau punya tipe pasangan atau prinsip kehidupan, itu sah-sah saja kok, tidak ada larangan.

Witri Prasetyo AjiDiaryMENIKAH KARENA CINTA ATAU MENIKAH KARENA USIA? MENIKAH KARENA CINTA ATAU MENIKAH KARENA USIA? Menikah karena apa, ya? Mungkin kalau saya sih karena dua-duanya. Padahal saya menikah di usia 22, menurut saya sih itu usia yang masih muda. Etapi, kalau di daerah saya, usia 22 sudah masuk perawan tua. Secara...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments