BAIK TAK SELAMANYA BAIK

 

BAIK TAK SELAMANYA BAIK. Berbicara soal kebaikan, niat baik itu tak selamanya akan diterima sesama dengan kebaikan pula. Banyak sekali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, niat kita baik ingin membantu, tapi malah dibilang nulung menthung. Begitupun sebaliknya, kita juga tentu pernah menyalahkan seseorang yang padahal ingin berbuat baik terhadap kita.

Aku sendiri, ada beberapa kisah. Ketika kita berbuat baik, tapi malah disalah artikan. Begitu pula ada seseorang yang ‘mungkin’ ingin berbuat pada aku, tapi aku malah menuduhnya jahat. Mungkin, caranya berbuat baik itu salah dan di waktu yang tak tepat, mungkin saja.

anigif

KETIKA NIAT TULUS DISALAH ARTIKAN

Cerita pertama…

Ini adalah ceritaku ketika aku menjadi seorang cucu. Ayahku adalah satu-satunya anak lelaki Embah dari 5 bersaudara. Bisa disimpulkan, Ayahku nanti yang bertanggung jawab atas kehidupan Embah. Itu artinya, Mamahku harus bisa merawat Embah, mengerti Embah. Bukan hal yang mudah bagi seorang menantu merawat mertua. Apalagi mertuanya mempunyai anak-anak perempuan. Terkadang ipar perempuan bisa menjadi racun yang menawan. Dan begitulah memang kenyataan yang menimpa Mamahku.

Embah Uti ikut Ayah dan Mamahku semenjak usiaku 10 tahun, waktu itu aku kelas 5 SD, sementara Embah Kung sudah tiada.  Sampai kini usiaku sudah menginjak seperempat abad, itu artinya Mamah merawat Embah Uti sudah hampir 15 tahun. Dalam perjalanan selama 15 tahun, banyak hal yang terjadi, banyak luka dan hadir berbagai kesalahpahaman yang aku tahu, itu mengiris hati Mamah. Namun sebagai seorang isteri, berbakti pada suami dan mengabdikan diri sebagai menantu yang baik itu adalah kewajiban.

Dan kalian tahu, merawat orang tua terkadang lebih sulit dari merawat bayi. Terkadang niat kita baik, tapi justeru sering kali disalah artikan. Seperti contoh mudah saja, soal makanan. Seperti yang kita tahu, sudah tua sebaiknya tidak makan ini itu, tapi itu makanan kesukaan Embah, niatnya yang muda baik tapi dikira tidak mau keluar uang lebih. Dan terkadang, Embah menceritakan pada anak-anak perempuannya, mereka percaya dengan ucapan Embah, menelannya mentah-mentah, alhasil Mamahlah yang salah. Namun jika Mamah menuruti Embah, memberi makanan kesukaan Embah yang mengakibatkan Embah sakit, Mamah pulalah yang bersalah. Dalam posisi ini, Mamah sudah bagaikan buah simalakama. Sebagai anak perempuan Mamah dan Mamah sering sekali curhat ke aku, aku tahu bagaimana perasaan Mamah.

Bukan hal itu saja, soal cuci mencuci pakaian misalnya. Embah terkadang tidak mau pakaiannya dicucikan. Katanya Embah sekalian berolahraga, biar sehat dan tidak mau hanya duduk ongkang-ongkang kaki saja. Akan tetapi, jika anak-anak perempuannya datang, Embah malah mencuci seolah kami yang muda tidak mau mencucikannya.

Dan masih banyak hal lain yang terjadi dan menimbulkan kesalahpahaman. Niatan yang baik, memang tak selamanya akan diterima dengan baik pula.

Cerita kedua…

Ini adalah ceritaku tatkala menjadi mahasiswa baru. Aku ingat betul, hal itu terjadi di akhir 2010. Kala itu, merapi sedang marah dan menumpahkan laharnya. Sebagai mahasiswa yang peduli sesama, aku mengikuti bakti sosial di kampusku.

Jujur, aku tulus membantu meringankan beban sesama. Mencari penyumbang dari sana sini sampai berdiri di pinggir jalan. Sungguh, hati ini berasa ringan tatkala jerih payahku mampu meringankan beban mereka. Karena dalam anganku kala itu, adalah bayangan suram jika musibah itu menimpa keluargaku. Naudzubillah…

Pergi pagi pulang sore, sudah biasa. Bahkan orang tua sempat marah, mereka pikir aku bermain-main. Tapi lambat laun mereka mengerti.

Dan hal lain pun terjadi. Bagaimana hati tak terluka, seorang teman lelaki dari lain Fakultas yang tidak ikut bakti sosial, bisa-bisanya dia bilang kalau aku hanya cari muka saja. Katanya, kebaikan tak perlu diperlihatkan.

Kalian tahu, kala itu benar tiada maksud memamerkan kebaikanku. Yang namanya bakti sosial, sudahlah orang tahu. Tapi justeru teman lelaki itu terus memojokkanku dan teman-teman sekelasku. Sialnya, karena kejadian itu dia justeru terus menyerangku. Serangan demi serangan dengan kata yang terkadang membuat hati terluka dan ingin marah.

Cerita ketiga…

Ini juga cerita yang terjadi tatkala aku duduk di bangku kuliah. Lagi-lagi bersama teman. Hanya saja, mungkin cerita ini dianggapnya aku yang sok suci atau munafik.

Seperti yang kita tahu, anak-anak sekarang kalau pacaran suka kelewat batas. Begitupun yang terjadi pada seorang temanku. Masih pacaran tapi sudah tinggal satu rumah. Kalau berantem dengan si laki, dia yang harus mengalah. Secara, dia menuntut pertanggungjawaban dari si laki.

Pernah aku berusaha memberi nasehat, pacaran jangan sampai keterlaluan. Aku ingatkan dia, mahkota seorang perempuan itu adalah keperawanan. Jika keperawanan itu hilang, maka tiada akan kembali.

Tapi apa yang dia terima? Dia marah dan menganggapku menafik. Berkata kalau aku tidak laku (waktu itu aku jomblo) dan memfitnahku di depan orang-orang. Sakit itu pasti, tapi apa daya… Toh sekarang perempun yang berniat baik malah dianggap munafik, tidak mau pacaran tapi maunya dinikahi malah dibilang ngebet nikah. Argh, terkadang aku takut menghadapi dunia yang semakin edan ini.

Itu hanya tiga cerita tatkala aku niat baik, namun selalu diterima dengan prasangka buruk. Terkadang, rasa jengkel dan ingin marah itu ada, namun kembali kuserahkan semua kepada Allah. Karena Allah Maha Tahu. Dia mengetahui apa yang tidak manusia ketahui.

Yuk, cerita tentang “Kebaikan Tak Selalu Baik di Mata Orang Lain”

 

Witri Prasetyo AjiGiveawayBAIK TAK SELAMANYA BAIK   BAIK TAK SELAMANYA BAIK. Berbicara soal kebaikan, niat baik itu tak selamanya akan diterima sesama dengan kebaikan pula. Banyak sekali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, niat kita baik ingin membantu, tapi malah dibilang nulung menthung. Begitupun sebaliknya, kita juga tentu pernah menyalahkan seseorang yang padahal ingin...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments