SEBUAH KISAH DI INTERCONTINENTAL JAKARTA MIDPLAZA

 1471710689764


Ama, jangan lupa besok ada meat and great di kawasan Sudirman. Tempat menyusul ya? Tiket pesawat udah aku pesenin, tapi aku belum booking hotel buat elu…. 


Sebuah chat dari Gerald membuat mataku terbelalak. Gila ajah, mendadak dia ngasih kabar ke gue kalau besok bakalan ada meat and great. Dia pikir gue ini apaan? Ngatur jadwal seenak jidat.

Tanpa pikir panjang, langsung saja gue menelpon Gerald. Sial. Nomornya sedang sibuk. Gue Cuma bisa menarik nafas panjang. Mungkin ini sudah menjadi resiko. Sebagai seorang artis yang tengah naik daun, gue harus bisa profesional.

Gue langsung menelpon Winda. Sahabat gue. Secara, gue sudah ada janji sama dia kalau besok kami bakalan ngumpul bareng di kawasan Dieng. Tetapi karena gue harus ke Jakarta, gue harus membatalkan janji gue ke Winda. Enggak peduli nantinya mereka bakalan marah ke gue.

“Gila ajah elu, Ma. Ya ya ya gue ngerti, elu kan sekarang artis. Mana punya waktu buat kita…” terocos Winda yang lalu menutup telponnya.

Dan lagi, gue Cuma bisa menarik nafas panjang.

Packing, sudah. Tiket pesawat juga sudah ada. Etapi hotel? Gue enggak bisa datang-datang langsung check in. Sejenak gue mikir panjang sembari bermain smartphone. Mata gue terbelalak, kenapa gue enggak pesen lewat traveloka.com ajah sih? Seenggaknya kan ntar gue nyampe di Jakarta sudah dapat hotel. Bego banget sih gue?

Langsung capcus meluncur ke traveloka.com dan guepun mencari hotel yang berada di area Sudirman. Dan… gue memilih check in di InterContinental Jakarta MidPlaza. Wow, banyak banget pilihan kamarnya. Guepun langsung memilih yang single room dong. Langsung jatuh hati di Premier King.

Beneran deh, di hotel itu gue banget. Selain letaknya yang strategis karena jarak dari Bandara Halim Perdanakusuma Cuma 10 km-an, InterContinental Jakarta MidPlaza berada di kawasan Golden Triangle, InterContinental Jakarta MidPlaza juga mempunyai arsitektur yang dramatis. Terus, kalau gue mau jalan-jalan ke Museum Sejarah Jakarta, ke Batavia Lama, atau mau beribadah ke Masjid Istiqal juga dekat. Atau, kalau gue mau ke Jakarta World juga deket banget, Cuma 0, 6 km.

Fasilitas juga enggak diragukan lagi.  Selain pelayanan receptionist full 24 jam, gue juga bakalan bisa memanjakan tubuh di sini. InterContinental Jakarta MidPlaza tuh ada pelayanan seperti salon, spa, kamar uap, sauna, dan pijit di pinggir kolam renang sambil menikmati keindahan alam. Udah gitu, gue juga bisa tuh menikmati makanan ala Italia, steak yang lezat, NewYork cheesecake dan apple pie khas Amerika. Duhile, kenapa gue jadi enggak sabar mau staycation di InterContinental Jakarta MidPlaza?



Tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, gue langsung pesan taksi dan menuju ke InterContinental Jakarta MidPlaza. Nyampai di sana langsung disambut ramah oleh receptionist.

“Argh, enggak salah gue check in di sini, kesan pertamanya ajah udah ramah banget,” ucap gue dengan nada pelan.

Saat gue berjalan menuju ke kamar gue, tia-tiba handpone gue berdering. Ada telpon dari Gerald.

“Iya, kenapa? Gue udah di InterContinental Jakarta MidPlaza. Acaranya besok jam berapa? Di mana?”

Dan sialan. Acara diundur sampai minggu depan. Nih orang mencla-mencle banget sih. Rasanya gue mau marah, mau mengutuk dia jadi pangeran kodok. Argh…

Enggak punya rencana jalan-jalan ke mana-mana. Gue juga enggak janjian sama temen-temen gue yang di Jakarta. Di kamar terus bosen, ya meskipun kamarnya itu full fasilitas tapi kalau dinikmati sendiri itu rasanya gimana gitu.

Renang. Udah lama gue enggak berenang. Akhirnya gue langsung menuju ke kolam renang yang sore itu lumayan sepi. Langsung, gue langsung berenang. Katrok mungkin, tak apalah asal gue puas.

Screenshot_2016-08-19-12-27-41-1

Setelah gue berenang, gue sengaja memanfaatkan fasilitas pijit di pinggir kolam renang sembari menikmati suasana sore kota Jakarta. Argh, Jakarta. Pernah mengukur cerita gue dengan seorang yang kini telah berdua. Seandainya saja dia tahu, di sini gue masih setia menantinya. Gue enggak peduli mau jadi yang kedua maupun ketiga, asal gue bisa menjadi bagian dari hidupnya.

Gue melamun. Dan disaat lamunan itu berhasil mengembalikan kenangan yang sudah gue kubur dalam-dalam, sosok dia hadir dalam satu area dengan gue. Mata gue belum buta, gue masih inget betul dengan gestur tubuhnya.

Are… batin gue memanggilnya. Dan mungkin ikatan itu masih nyata dalam rasa kami, sesaat dia menoleh dan tersenyum. Tapi sayangnya, tangannya telah menggandeng perempuan cantik yang lebih muda dari gue.

Tiba-tiba tubuh ini terasa panas. Gue enggak tahu dengan apa yang terjadi pada gue. Guepun langsung menuju ke kamar. Berharap nanti malam, saat gue makan malam, gue bakalan ketemu lagi sama Are. Tapi Are sendiri. Gue rindu saat-saat berdua sama dia, gue rindu makan malam bareng dia. gue… gue cinta elu, Are Firmansyah.



Kopi kembali menemaniku. Yups, kebetulan di InterContinental Jakarta MidPlaza memang ada kedai kopi, so gue bakalan bisa menghabiskan beratus-ratus cangkir kopi agar gue kembali ke keadaan waras.

Screenshot_2016-08-19-12-27-44-1

“Masih suka minum kopi?” suara yang tak asing di telingaku itu…

Gue menoleh. Are tersenyum. Dia seorang diri. Gue langsung mencubit pipi gue, gue enggak bermimpi, kan?

Malam itu, Are benar-benar menemaniku minum kopi. Sampai esok menjelang. Gue enggak tahu apa yang kami obrolin, tapi percakapan rasanya tak pernah usai. Banyak cerita yang hadir hingga waktu telah berganti hari.



“Ama, elu itu sekarang seorang artis. Punya banyak fans, apa yang elu lakuin itu ditiru oleh fans-fans elu. Gila ajah elu merebut suami orang…: Gerald marah-marah sembari melempar tabloid mingguan ibu kota yang menangkap foto gue saat bersama Are.

“Gue enggak mau tahu, elu harus segera konfirmasi ke media. Gue enggak mau, film elu enggak laku gara-gara gosip ini!” tegas Gerald dengan nada tinggi.

“Ini bukan gosip, gue masih mencintainya,” bantah gue.

Gerald menatap gue dalam-dalam.

“Elu bilang cinta? Apa elu enggak tahu siapa dia? Dia itu menantunya pejabat, Ama. Dan dia enggak mungkin meninggalkan isterinya demi elu!”

“Gue enggak peduli itu!”

“Tapi gue enggak akan ngebiarin itu terjadi!”

“Kenapa?”

Sejenak Gerald diam dan menatap gue lekat-lekat. “Karena isterinya Are itu adalah adik kesayangan gue!”

Tubuh ini langsung melemas. Sesempit inikah dunia. Berntungnya dia, Kareena Prasista Wijoyo, isteri Are yang cantik. Sungguh, gue iri padanya yang sangat dicintai Are dan disayangi Gerald. Lantas, siapakah yang cinta dan sayang sama gue?***

Witri Prasetyo AjiCerpenHangoutSEBUAH KISAH DI INTERCONTINENTAL JAKARTA MIDPLAZA   Ama, jangan lupa besok ada meat and great di kawasan Sudirman. Tempat menyusul ya? Tiket pesawat udah aku pesenin, tapi aku belum booking hotel buat elu....  Sebuah chat dari Gerald membuat mataku terbelalak. Gila ajah, mendadak dia ngasih kabar ke gue kalau besok bakalan ada...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments