KESENDIRIANKU

 

 

Kesetiaan bukan untuk dijanjikan, melainkan untuk dibuktikan

Jika di bawah langit yang sama aku tetap berdiri sendiri, itu adalah satu bukti kesetiaanku padamu

Anganku masih ingat dengan jelas, bahwa hanya denganmu akan kuhabiskan sisa hidupku

Dan dalam setiap detak, dalam ukiran bait-bait do’a, hanya namamu yang aku sebut

 

***

“Mel, lo masih waras, kan? Gue enggak salah denger?” Karien bertanya dengan antusias. Pandangan anehpun dilontarkannya padaku.

Aku menggeleng dan tetap fokus pada nominal-nominal yang tertera pada kertas di hadapanku.

“Gue serius, Mel,” Karien menekankan.

“Gue juga serius,” jawab gue singkat dan tanpa menoleh padanya.

Karien menarik nafas panjang. “Lo harus inget usia, Mel. Lo juga harus inget nyokap lo, adik lo yang juga udah kebelet nikah. Lo enggak boleh egois,” Karien mulai berceramah.

Aku hanya diam. Tahu apa sih Karien tentang semua itu? Toh dia juga enggak merasakan apa yang aku rasakan. Karien enggak pernah tahu seberapa dalamnya aku mencintai Khalil. Karien juga enggak pernah tahu janji-janji kami. Toh yang Karien tahu, mama menolak Khalil lalu Khalil meninggalkanku demi perempuan lain yang keluarganya mau menerimanya. Udah itu saja, kan?

Kalaupun selama ini aku pernah menjalin hubungan dengan beberapa lelaki dari om-om sampai yang berondong, itu hanya pembuktianku pada dunia bahwa kesendirianku bukanlah simbol karena aku tidak laku. Kesendirianku adalah simbol kesetiaanku pada Khalil. Iya. Setiaku. Seperti janjiku padanya dulu,, aku tak akan sama siapapun selain dia

Dan usia berkepala tiga namun tetap sendiri, aku tak peduli. Dan pada mama, kenapa dulu mama harus menolak Khalil? Perbedaan agama? Perbedaan kasta? Perbedaan pendidikan? Masihkan semua itu menjadi jurang dalam sebuah jalinan asmara? Serta pada adikku yang ingin menikah, biarlah. Toh dulu dia juga tidak peduli pada hubunganku dengan Khalil. Dia justeru mendukung mama dan membantu mama memisahkan aku dengan Khalil.

“Lo dengerin gue, kan Mel?” Tanya Karien membuyarkan lamunanku.

“Ya,” aku mengangguk.

***

Sore itu, hari Sabtu, setelak aku pulang kerja, aku mampir ke taman di mana dulu aku dan Khalil sering menghabiskan waktu bersama. Dulu, begitu indah dan betapa bahagianya aku menjalin cinta dengan lelaki berkulit sawo matang itu. Tubuh kekarnya yang selalu melindungiku dari gidaan para hidung belang. Argh…

Tiba-tiba saja air mataku meleleh. Aku merindukan dia yang hanya mampu kusentuh dalam anganku. Aku menginginkan dia yang kini dimiliki orang lain. Seandainya saja aku bisa mewujudkan keajaiban. Akan kuambil dia agar menjadi milikku kembali.

Aku masih yakin, aku masih mempunyai tempat di dalam hatinya. Dan tempat itu tak akan mampu dihuni oleh siapapun meskipun perempuan itu adalah isterinya. Toh isterinya hanya pelarian saja dan bukti pada mama bahwa ada perempuan yang keluarganya mau menerimanya. Toh cinta dan hatinya hanya milikku saja. Iya, milikku.

***

Iseng-iseng aku membuka akun sosial media yang sudah beberapa bulan ini kubiarkan terbengkalai. Oh My God, banyak sekali notifikasi. Mataku terbelalak, ketika beranda facebook banyak terpapang berita duka. Telah berpulang isteri Khalil? Jadi…

Khalil sekarang duda. Aku tak tahu harus kecewa atau bahagia. Lelaki yang dulu tak punya itu kini menjai pengusaha kaya, duda pula. Aku yakin, kali ini mama bakalan menyetujui jika aku menikah dengannya. Dan memberikan rasa empati, mungkin adalah jalanku untuk mendapatkan dia kembali.

Aku tak peduli meskipun Khalil sudah punya anak. Cuma satu anak, kan? Tak masalah, aku juga bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Anaknya masih kecil dan pastinya mudah untuk merenggut hati anaknya, sekaligus bapaknya.

***

Bersama teman-teman, aku datang ke acara seratus harian isterinya Khalil. Dengan memasang muka tembok dan ketakpedulianku, kumelangkahkan kaki dengan wajah yang berseri. Balutan make up cukup membuatku percaya diri bahwa sekarang aku lebih cantik daripada dulu, meski usiaku sekarang sudah cukup matang.

“Ini Melisa, kan? Sekarang lo cantik banget. Denger-denger, lo sekarang sudah magister, ya? Sudah punya perusahaan sendir, ya? Wah, hebat banget sih lo, Mel,” puji Retno, salah seorang teman SMA-ku. Aku hanya tersenyum. Bangga, iya. Tapi… aku masih sendiri.

“Oh My God, Melisa. Cantik banget, aku sampai pangling loh,” giliran Windi yang memujiku. Lagi-lagi aku hanya tersenyum.

Hingga…

Kulihat Khalil yang menggendong jagoannya dan menyalami para tamu. Saat dia menyalamiku, sejenak kami bertatapan. Matanya…

“Terima kasih sudah datang, Mel…” sudah begitu saja ucapannya. Sementara saat aku berpura menggoda jagoan kecilnya, jagoannya justeru menangis. Apakah dia tahu jika aku tak tulus padanya dan hanya menginginkan bapaknya?

Acara tahlilanpun akhirnya dimulai. Sempat kulirik Khalil yang sepertinya begitu khusyu’. Tiba0tiba nyali ini pun menyiut. Apakah Khalil benar-benar mencintai Naomi? Apakah rasanya padaku sudah luntur termakan waktu?

Argh, aku tak menduga hingga semua jelas. Saat acara tahlilan usai dan semua tamu sudah pulang, aku masih tetap berada.

“Kenapa tak pulang?” Tanya Khalil dengan sedikit kesinisan.

“Aku ingin menemanimu,” jawabku terlalu apa adanya. Aku tak peduli jika hari ini kukorbankan harga diriku. Dulu Khalil juga pernah mengorbankan harga dirinya untuk mendapatkan aku, kan?

“Aku sudah punya teman, dan aku tak butuh teman lagi. Pulanglah, sebelum mamamu mencarimu,” Khalil mengusirku.

Sejenak aku terdiam. Sakit.

“Kau mengusirku?” Tanyaku dengan nada pelan, tak berdaya.

Khalil hanya terdiam.

“Aku masih mencintaimu, Lil. Aku mau menjadi pengganti Naomi. Aku mau menjadi yang kedua. Aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu,” ucapku yang kehilangan kewarasan dan dibarengi dengan lelehan butir air mata yang membasahi wajahku.

Khalilpun mendekat. Mungkin dia akan memelukku. Meredakan tangisku seperti dulu dia selalu meredakan tangisku dan menghiburku yang tengah berduka.

“Semua sudah usai Mel. Bagiku, pernikahan itu sekali seumur hidup. Tak ada yang bisa menggantikan Naomi. Tak ada,” ucapnya dengan tatapan yag begitu tegas.

“Tapi Naomi sudah meninggal, Li!” Aku menekankan.

:Tapi cintanya selalu hidup di hatiku. Naomi tak pernah meninggalkan aku. Dan yang harus kau tahu, aku tak akan pernah menghianatinya!”

Tubuhku langsung melemas. Sebesar itukah cintanya Khalil pada Naomi?

Jawaban itu, masih pantaskah jika aku mempertahankan kesendirianku? Untuk siapa? Atau memang takdirnya jika aku harus hidup sendiri sampai usiaku tak lagi ada?***

Witri Prasetyo AjiCerpenKESENDIRIANKU     Kesetiaan bukan untuk dijanjikan, melainkan untuk dibuktikan Jika di bawah langit yang sama aku tetap berdiri sendiri, itu adalah satu bukti kesetiaanku padamu Anganku masih ingat dengan jelas, bahwa hanya denganmu akan kuhabiskan sisa hidupku Dan dalam setiap detak, dalam ukiran bait-bait do’a, hanya namamu yang aku sebut   *** “Mel, lo masih waras, kan?...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments