[CURHAT] PERJODOHAN DI USIA MUDA? YAY OR NAY?

 

PERJODOHAN DI USIA MUDA? YAY OR NAY? Ngomongin soal perjodohan sebenarnya itu kembali mengingat luka lama. Etapi, kali ini saya enggak mau bahas cerita perjodohan saya 9 tahun yang lalu. Karena kalau boleh jujur, sampai sekarang saya belum bisa menerima kenyataan dengan sepenuh hati, saya belum bisa memaafkan mereka yang sudah ikut campur urusan saya sehingga kuliah saya hancur berantakan. Dan maaf, jika mengingat semuanya itu terkadang masih spontan mengucap sumpah serapah yang tak seharusnya saya lontarkan.

Kenapa sih, kok tiba-tiba saya ngomongin soal perjodohan di usia muda? Jawabnya simpel, tadi di sekolah ada seorang siswa yang nangis karena dia enggak mau dijodohin. Awalnya saya sih kaget, anak kelas 3 SMP, mau ujian, baru berusia 15 tahun, sudah dijodohin dengan alasan sudah ada lelaki mapan yang meminang. Hmm…

Sebagai seorang ibu sekaligus seorang isteri, saya sih tahu banget kalau berumah tangga itu butuh materi. Hidup enggak butuh makan cinta doang, apalagi kalau sudah punya anak. Kita enggak kenyang kalau Cuma makan sayang. Enggak ada materi? Bisa jadi dech setiap hari ada perang dunia ketiga.

Etapi… bukan berarti dong kalau anak usia dini, yang seharusnya masih sekolah, masih main-main sama temannya terus dijodohin dengan lelaki yang 11 tahun lebih tua hanya karena alasan dia sudah punya rumah sendiri, sudah mapan. Mapan bukan jaminan bahagia sih kalau menurut saya.

 

Baca : Nikah Di Rumah, Tinggal Numpang Mamah

 

Saya dan suami nikah di usia 22 dan 25, kami belum mapan, sampai sekarang bahkan belum punya rumah sendiri (gitu kok bangga… LOL), tapi Insya Allah kami bahagia. Kalaupun ada gonjrang ganjring yah wajarlah namanya rumah tangga. Dan Insya Allah juga kami bisa bahagian orang tua. Iya, dengan cara kami tentunya.

 

Saya sendiri sih memang tipe orang yang dari dulu kepengen sukses bareng. Enggak kepengen sama yang sukses (emang ada yah yang sukses mau sama elu, Wit? *ehhh).

 

Seperti orang trauma saja, kebanyakan pasangan teman-teman saya yang kaya, sukses, apa-apa diturutin tapi rata-rata enggak setia. Ya enggak semua sih cowok kayak gitu, etapi… saya mah sudah parno dulua. Jadinya yah doanya itu dapat cowok yang setia, gemati, dan tentunya tanggung jawab bin enggak malas bekerja. Alhamdulillah, soal kesetiaan jangan ditanya, soal gemati apalagi? Tanggung jawab dan mau bekerja? Iya dong, plus enggak ngerokok. Hahaha… enggak tahu saya kurang sreg ajah sih sama perokok, yang jelas kalau enggak ngerokok itu sedikit hemat. LOL…

 

Baca : Fakta Tentang Rokok Elektrik

 

Kembali lagi ke topik. Sejujurnya, saya pernah berada dalam posisi yang murid saya rasakan saat ini. Bedanya, kala itu sih saya sudah lulus SMA, usia baru 18 tahun dan memang niat mau di rumah setahun dulu, jadi nunda kuliah setahun. Alasannya simpel, waktu itu saya masih sakit dan belum selesai urusan sama dokter. Jadi, memang kepengen fokus sama kesehatan.

 

Etapi lahdalah, mana saya pikir mana saya ngagas kalau ada pemuda dari dusun tetangga yang melamar saya dengan senjata punya tanah di sana sini, kambing 11, sapi 4, lah siapa juga yang mau jadi bu tani, mas bro? Apalagi saya enggak kenal sama itu pemuda yang ternyata selalu bersembunyi di bawah ketiak orang tuanya.

 

Baca : Nikah Atau Kuliah?

 

Saya yang enggak kenal dengan orang itu mah langsung nolak. Tapi yang namanya ngebet, lah dia menghalalkan segala cara. Yang bikin saya geram, sudah jelas saya tolak, lah kok malah minta pernikahan disegerakan. Yaudah deh, saya minggat saja.

 

Jika ingat itu, saya langsung esmosi stadium empat. Mending sih bisa marah, daripada nangis nahan nyesek. Saya mah kalau enggak suka ya enggak suka, bodo amat yah mau sekaya apa setampan apa, wong enggak suka kok dipaksa. Apalagi kalau pelit, percuma ah kaya kalau pelit.

 

Lagian, kala itu saya juga masih pengen kuliah. Nah gara-gara tuh orang kan kuliah saya berantakan. Bersyukur sih sudah bisa kuliah, sekarang sudah kerja yang bisa dibilang enggak diremehin meskipun gajinya remahan rengginang, bersyukur juga punya suami yang selalu support setiap aktivitas saya dan selalu selalu selalu kepengen saya bahagia. Tapi… tetap ada tapinya, ngelihat adek saya yang mau kuliah di luar kota, di kampus impian kok rasa iri dan kemarahan pada orang-orang yang ada di balik perjodohan itu rasanya bikin saya marah. Jujur…

 

Dari pengalaman masa lalu itu, saya bisa ngerasain apa yang murid saya rasain. Tapi kan sebagai guru (meskipun aslinya saya tenaga administrasi), saya enggak mungkin juga dong nasehatin murid saya buat minggat dari rumah, apalagi dianya sebentar lagi mau ujian. Ya, yang bisa saya dan teman-teman saranin sih kasih pengertian dan membantu ngasih pengertian ke orang tuanya.

 

Ya, sebenarnya saya tahu alasan orang tuanya kenapa ngejodohin dia padahal usia masih belia. Pengalaman yang terjadi pada kakaknya yang menikah dengan lelaki pilihan dan kehidupan kurang mapan, itu yang jadi alasan kenapa anak usia 15 tahun dijodohin.

 

Tetapi buat saya sih orang tuanya tetap salah. Mbok ya nunggu habis ujian gitu. Kalau kayak gini kan jadi beban. Lagian anaknya juga enggak mau, kenapa dipaksa coba?

 

Lagipula yah, yang namanya rejeki kan enggak ada juga yang tahu. Sekarang bisa jadi mapan? Tapi kita enggak tahu ke depannya. Pun sebaliknya.

 

So, kalau buat saya pribadi, perjodohan di usia dini itu NAY banget. meskipun banyak yang berbahagia karena perjodohan dan nikah di usia dini, tapi bagi saya sih NO NO NO.

 

Buat saya, perempuan kudu sekolah, kudu berpendidikan, entah jadi ibu rumah tangga ataupun bekerja. Okey, emang banyak kok emak-emak yang bisa kuliah, tapi percaya enggak percaya, jadi mahasiswa sekaligus ibu rumah tangga itu bukan hal yang mudah. Saya sendiri merasakan dan dalam posisi seperti itu.

 

Nikah di usia terlalu dini? Saya sih sebenarnya termasuk pelaku nikah muda, usia 22 tahun euy, tapi kalau  terlalu dini? Secara kesehatan, secara mental, yakin sudah siap? Apalagi kalau dijodohin, kalau enggak dijodohin sih saya masih bisa nerima.

 

Baca : Nikah Karena Cinta atau Nikah Karena Usia?

 

Dan kembali lagi, perjodohan di usia muda itu? NAY.

Witri Prasetyo AjiUncategorizedPERJODOHAN DI USIA MUDA? YAY OR NAY?   PERJODOHAN DI USIA MUDA? YAY OR NAY? Ngomongin soal perjodohan sebenarnya itu kembali mengingat luka lama. Etapi, kali ini saya enggak mau bahas cerita perjodohan saya 9 tahun yang lalu. Karena kalau boleh jujur, sampai sekarang saya belum bisa menerima kenyataan dengan...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments