SEBELUM BELIAU PERGI

 

[CURHAT] : SEBELUM BELIAU PERGI. Weekend-weekend izinkanlah daku curhat sebentar tentang rasa kehilangan yang mungkin bakalan merembet ke segala penjuru arah. Tsah… bahasanya.

 

Sebenarnya, ada sedikit draf yang mau aku tulis, etapi belum sempat ditulis, sudah ada kejadian lagi.

Yups, ceritanya itu pada hari Kamis, 9 Februari 2017 aku mau nulis tentang #CeritaBahagiaku. Setelah sedikit baper mendengar Mbah Uyud yang tengah memuji sepupu yang tengah renovasi rumah. Yups, bukannya aku iri atau gimana sih, etapi takut terdengar sama Pak Suami dan Beliau bakalan tersinggung karena kami memang belum punya rumah sendiri. Rumah sendiri yang aku maksud itu adalah rumah yang dibangun atau dibeli dari hasil jerih payah kami sendiri loh ya, bukan warisan ataupun kontrakan.

 

Baca : Nikah Di Rumah, Tinggal Numpang Mamah

 

Terus, aku sedikit mikir, apa aku pindah ke rumah mertua yang kosong ajah, ya? Biar terlihat keren, sudah nikah enggak numpang orang tua lagi. Biar enggak ada yang ngebandingin lagi. Soalnya pernah sich, pihak nenek dari suami ya kayak ngebandingin Pak Suami dengan sepupunya yang ‘katanya’ sudah tinggal sendiri gitu.

 

Terus, terus, aku mikir lagi. Apa aku seegois itu? Tiba-tiba mau pindah hanya ‘demi’ biar terlihat keren ajah? Gimana sama perasaan Babe dan Mamah yang selama ini momong Arjuna? Gimana perasaan mereka yang kesehariannya mendengar tangis dan tawa Arjuna? Gimananya itu banyak. Sampai aku mikir, siapa yang momong Arjuna kalau kami (aku dan Pak Suami) memutuskan menempati rumah mertuaku yang kosong itu? Apa aku harus resign? Gimana perasaan kedua orang tua aku?

 

Karena kebanyakan mikir itu, aku jadi sadar (lagi), kenapa aku jadi baper sich? Lah kudunya aku kan bahagia dan merasa beruntung. Aku ingat beberapa keluhan teman yang ngisi karena aku masih bisa pacaran sama Pak Suami, masih bisa kerja dan bla… bla…

 

Iya, aku tahu, ada sich beberapa omongan yang bilang kalau nitipin anak ke ortu itu seolah kita enggak kasihan sama ortu. Lah kalau ortunya senang, mau gimana? Bahkan ortu sudah pesen ke aku, nanti kalau aku pindah ke rumah suami atau sudah bisa membeli/membangun rumah sendiri, Arjuna tetap diminta tinggal sama mereka. Bahkan juga, aku tahu bener kalau Mamah kecewa saat aku pengen nyekolahin Arjuna tahun depan.

 

Yups, aku akhirnya sadar, seharusnya aku merasa beruntung. Orang tua masih lengakap dan sehat, masih ada simbah, pokoknya menikmati kebersamaan ini. Soal keren atau enggak keren, tergantung sudut pandang masing-masing. Yang penting jalanin hidup tanpa merugikan orang lain. fokus saja sama keluarga.

 

Kalau dengan masih numpang orang tua itu yang bikin orang tua seneng karena dekat sama cucu, Babe juga deket sama aku, soalnya aku dan Pak Suami itu tahu banget gimana sayangnya Babe ke aku, yaudah, jalanin ajah. Yang penting, nikmati dan syukuri saja.

 

Nah, hari itu aku baru mau bikin postingan itu, siapa sangka kalau sore hari pukul 15.30 aku harus kehilangan Beliau (Simbah)—Mbah Uyudnya Arjuna.

 

Pagi hari saat aku nyuci piring, Beliau masih minta dituntun diantar ke kamar mandi. Saat aku pulang kerja, aku masih ngambilin teh hangat. Dan saat orang tuaku mau pergi, Simbah batuk dan muntah, aku telp Babe dan orang tua langsung pulang. Enggak beberapa lama, Simbah sudah berpulang.

 

Kalau aku ditanya sedih enggak, yang namanya kehilangan itu pastinya sedih. Sedari kecil loh aku sama Simbah. Meskipun sedari kecil enggak serumah, tapi kan satu lingkup. Sewaktu aku masih kecil, Simbah ini yang nemenin aku main boneka, main masak-masakan, main salon-salonan. Terus pas aku punya adek, Simbah yang momong adekku. Secara, 4 bulan setelah kelahiran adekku, Mbah Kakung berpulang.

 

Sudah gitu, setiap hari aku yang merawatnya. Meskipun kadang ada rasa jengkel karena Simbah sengaja gini-gitu, tapi Alhamdulillah sich enggak pernah ada kata-kata kasar ataupun kotor. Perkataan Simbah juga selalu baik, enggak pernah berkata kasar.

 

Meskipun aku dan sekeluarga merasakan kehilangan, tapi kami merasa lega, seenggaknya Simbah sudah enggak merasakan sakit lagi. Selama ini Simbah mengidap kista, sudah membesar dan salah satu alternatif ya operasi, tapi Simbah sama sekali enggak mau.

 

Melihat Simbah yang susah berjalan, susah duduk, bahkan bernafas saja sesak, apa ya tega? Setiap hari minum obat juga enggak sembuh. Tapi operasi enggak berani.

 

Iya, kami memang kehilangan. Enggak ada lagi yang setiap malam menjerit-jerit sakit hingga kami enggak bisa tidur. Enggak ada lagi yang setiap saat minta dituntun ke kamar mandi atau menyuruh diambilkan minum, dan kerepotan lainnya.

 

Doanya, semoga Simbah tenang di sana. Di terima di sisiNya dan mendapatkan tempat yang terindah.

 

Ampel, 11 Februari 2017

 

Baca : Kurangkum Dukaku Dalam Tulisan

Witri Prasetyo AjiDiaryCurhatSEBELUM BELIAU PERGI   : SEBELUM BELIAU PERGI. Weekend-weekend izinkanlah daku curhat sebentar tentang rasa kehilangan yang mungkin bakalan merembet ke segala penjuru arah. Tsah... bahasanya.   Sebenarnya, ada sedikit draf yang mau aku tulis, etapi belum sempat ditulis, sudah ada kejadian lagi. Yups, ceritanya itu pada hari Kamis, 9 Februari 2017 aku...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments