KARENA #MEMESONAITU, KETIKA AKU…?

 

KARENA #MEMESONAITU, KETIKA AKU…? Pernah enggak sih, kamu punya pengalaman pahit di masa lalu? Kurasa, semua orang… punya masa lalu yang pahit. Dan masa lalu yang pahit itu, bukan lantas menjadi alasan buat kita enggak bisa menjadi kita seperti sekarang ini. Karena bagiku, masa lalu adalah pengalaman sekaligus guru terbaik yang akan menuntun kita menjadi seseorang yang lebih baik di masa depan.


Sebuah kisah masa lalu, aku pernah di bully


Bully? Sampai saat ini yang namanya bully tetap beraksi, enggak secara fisik tapi juga secara mental. Bahkan, bully sendiri enggak hanya menyerang anak-anak sekolah saja, melainkan netizen juga ibu rumah tangga juga terserang yang namanya ‘bully’.

Kalian tahu, aku punya pengalaman masa lalu yang terlampau pahit tentang bully. Hmm… aku masih ingat dengan jelas, kala itu aku duduk di bangku SMP. Sebenarnya, SMP tempat aku menuntut ilmu adalah SMP Favorit. Kala itu, no. 2 se-Kabupaten Boyolali. Sudah dipastikan, para siswa-siswinya itu pilihan. Entah dari segi akademik maupun attitude (mungkin). Yah, kupikir seperti itu.

 

Tapi yang namanya bangku sekolah, in the gengs itu sudah pasti ada. Gengsnya anak gahol kalau zaman dulu bilangnya. Di mana anak-anak gaul ini bukan terdiri dari anak-anak yang pinter secara akademik, melainkan dari mereka anak-anak orang kaya yang suka menindas temannya dari anak kurang mampu. Atau, anak-anak yang suka keluyuran dan selalu up to date soal berita yang tengah beredar. Sementara aku? Siapalah daku? Remahan rengginang yang kuper dan terlalu apa adanya. Oww…

 

Gusti yang menakdirkanku terlahir dari keluarga kurang mampu (waktu itu), aku juga enggak pernah keluyuran, memberikan nasib yang kurang beruntung di bangku SMP. Bahkan, aku nyaris takut berangkat ke sekolah.

Suka disuruh teman untuk membelikan jajanan atau mengambilkan buku sih buat aku enggak apa-apa. Tapi kalau fisik sudah diolok-olok karena gigiku yang kurang rapi dan tubuhku mungil, sering kali disindir, terus karena waktu itu aku temenan sama seorang cowok—sebut saja Z—yang diperebutkan oleh anak-anak gaul. Namanya juga cemburu, yoweslah aku dadi sasaran empuk karena mereka cemburu buta.

 

Dan ada satu hal yang sampai saat ini sungguh membuatku kecewa sekaligus berterima kasih pada teman SMPku yang dulu sering membullyku. “Hallo, opo kaburmu, cah? “

 

Kalian tahu, hal apakah itu? Hal di mana hobiku dan mimpiku mereka permalukan. Iya… mereka mempermalukanku dan aku tak akan pernah melupakan itu. Aku, seorang anak yang hobi menulis puisi, menulis cerpen dari kecil, mereka pandang sebelah mata. Bahkan, dengan lancangnya mereka mencuri puisi-puisiku dan menempelkannya di dinding mading, lalu mengolok-olok aku, menertawakan aku dan menghinaku. Oh… sampai detik ini aku tak lupa dengan hal-hal itu. Tapi aku berterima kasih, karena akhirnya itu adalah menjadi penyemangat bahwa dunia akhirnya mengenalku karena karyaku. “Sementara kalian, bagaimana?”

 

Ini bukan wujud kesombongan, tapi hanya sebuah peringatan (jika kalian membaca cerita ini), jangan pernah merendahkan orang, karena kalian tidak tahu dengan masa depan orang yang kalian rendahkan. Termasuk masa depanku. Sekarang, Beliau-beliau yang dulu menjadi guru kita, adalah menjadi rekan kerjaku. Sekarang, namaku terpampang di toko buku (meski belum banyak buku yang kuterbitkan), dan sekarang dunia mengenal namaku.

 

Iya, aku bangga, karena aku MEMESONA. Memesona menjadi seorang aku, yang pernah kalian pandang rendah, tapi justeru aku menjadi bangkit. Dan kalian tahu, aku tak benci sama kalian, aku justeru berdoa, agar kalian serta anak keturunan kalian tak merasakan apa yang dulu aku rasakan. Kalian suruh aku dan beberapa kawanku layaknya babu, kalian permalukan kami, kalian olok-olok fisik kami yang masih apa adanya karena kami ndak punya banyak uang buat rebonding rambut. Argh… sudahlah. Toh aku sudah MEMESONA dengan caraku dan Gusti sudah memberikan keadilannya untukku dan mungkin beberapa kawan lain yang kalian rendahkan (dulu).

 

Karena #MemesonaItu… AKU

Memesona = mem + pesona

pesona/pe·so·na/ n 1 guna-guna; jampi; mantra (sihir): dukun itu membuat (mengenakan) — kepada gadis itu2 daya tarik; daya pikat: senyum gadis itu penuh –;
memesona/me·me·so·na/ v sangat menarik perhatian; mengagumkan: tari-tarian Minang klasik dengan pakaiannya yang cemerlang sungguh ~;

 

#MemesonaItu mempunyai daya tarik, daya pikat, lah kok aku yakin kalau aku ini memesona. Pede banget, yah? Hehehe… LOL

 

Etapi, memang aku yakin banget nget nget, kalau setiap orang itu memesona. Setiap orang itu diciptakan unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Enggak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milikNya.

 

Oh ya, sebelum aku ngejembrengin kenapa sih aku kok pede banget bilang aku ini memesona, sebelumnya aku sudah nanya dulu ke temen-temen facebook dan KEB Solo. Apa tho yang #memesonaitu dari seorang Witri? Jawabannya, kebanyakan kaca mata (putih), ow ow ow… kok tuh kacamata yang sebenarnya salah beli malah jadi aku banget gitu. Selain kaca mata, katanya aku pede (yojelaslah… hahaha), kekinian dan yang paling aku suka, setia. Aku kan emang setia… duh…

 

Karena #MemesonaItu… Ketika Aku…

 

  1. #MemesonaItu ketika aku mampu bertahan di antara badai kehidupan

Ceile… bahasaku? Badai kehidupan? Hahaha… Aku yakin, setiap orang itu pasti pernah berhadapan dengan yang namanya badai kehidupan. Tapi sayangnya, ada yang enggak mampu bertahan. Contoh nyata sih ya sebapak yang belum lama ini live bunuh diri di facebook. Buat aku, sebapak enggak mampu bertahan melawan badai kehidupan. Padahal kan badai kehidupan itu ujian agar level kita jadi naik… huhuhu…

 

Aku, sebelum aku bisa jadi Witri yang saat ini kalian kenal (halah… sok banget sih), banyak banget badai-badai yag aku terjang. Salah satu contohnya ya kisah masa SMPku di atas. Aku di bully loh, dan menghadapi bully-an itu enggak gampang. Bertahan dalam kondisi di bully itu sama sekali enggak nyaman. Kalau menyelesaikan masalah bully itu gampang, so pasti enggak bakalan ada berita anak-anak sekolah yang bunuh diri karena di bully temannya di sekolah.

Badai kehidupan lainnya yang menimpaku masih ada. Enggak Cuma cerita soal punya pacar yang selingkuh sama sahabat, itu sih Cuma masalah remahan rengginang garing (kering), etapi aku pernah berada pada titik yang bener-bener nol dan butuh waktu buat bisa bangkit kayak saat ini. Aku pernah loh sakit parah, waktu itu dari kelas 2 SMA naik ke kelas 3 SMA. 22 bulan hidup berdampingan sama obat dan aku nyaris putus asa apakah Gusti masih memberikan kehidupan buat aku. Ternyata Gusti masih memberikan kesempatan buat aku untuk hidup, ada teman dan saudara yang enggak henti-hentinya ngasih semangat dan menemani aku. Love You Full buat sahabat-sahabat SMA aku yang sampai saat ini terus menyemangatiku.

 

Badai kehidupanku enggak sampai di situ saja. Di saat dokter sudah menyatakan kalau aku sembuh, akupun juga sudah lulus SMA, tentunya aku kepengen dong kuliah. Waktu itu aku sih memang niatan cuti setahun yah. Jadi lulus SMA enggak langsung kuliah, melainkan fokus berobat dan tahun depan baru kuliah. Dan… harapan buat kuliah itu nyaris hilang.

 

Baca : Perjodohan di Usia Muda? Yay Or Nay?

 

Seperti yang pernah aku ceritain sebelumnya, aku pernah dilamar, aku pernah dipaksa nikah dan aku pernah berseteru dengan orang tua aku. Hampir 2 tahun aku jadi tahanan rumah tanpa gadget tanpa motor. Aku bener-bener dipenjara di rumah dan mama pun enggak ngebolehin aku nulis karena cerita yang aku tulis mengandung curhatan aku. Tahu enggak, aku sudah kayak orang depresi, aku kehilangan sahabat SMA, kawan main di rumah dan pokoknya Cuma TV yang jadi hiburan aku. Tapi… aku enggak boleh putus asa. Aku tetap nolak lamaran dia dan berpegang teguh kudu kuliah.

Dan… kalian lihat, aku kuliah, aku kerja di dunia pendidikan. Meski aku bukan sarjana pendidikan, tapi aku bangga. Posisiku sebaga Tata Usaha dan Operator Sekolah, aku suka karena ilmuku berguna. Horeee….

 

Bangkit bangkit dan bangkit… karena #MemesonaItu ketika aku bangkit dari keterpurukan.

 

  1. #MemesonaItu ketika aku mampu meraih mimpi

Mimpiku adalah sebagai seorang penulis. Aku bahagia ketika salah satu novelku di ACC penerbit mayor. Ada di toko buku dan Indomart. Terus, ada pula cerpenku dan cerpen teman-teman dalam satu buku dan nangkring di toko buku. Ada lagi cerpen yang nongkrong di majalah Femina, cerita anak di Radar Bojonegoro. Yeay… aku bahagia dan aku bangga.

Seperti yang aku ceritakan di atas, aku dibully karena aku nulis, bahkan mama juga melarang aku buat nulis, tapi aku tetap nekat dan aku ngebuktiin ke mereka kalau aku bisa membuat mereka bangga. Aku tunjukin ke mama tentang karya-karya aku, aku juga dibayar, terus aku juga cerita ke mama kalau aku ini seorang blogger, aku dapat barang maupun duit dari ngeblog. Okelah, dulu mama enggak ngerestuin, tapi sekarang… Alhamdulillahn aku sudah mengantongi restu mama, babe dan tentunya suami tercinta yang selalu mendukungku.

 

Yeah… aku bahagia. Apalagi ketika ada orang yang baca karya aku terus nginbox aku. Duh, bahagia banget nget nget. Ya ya, karena #MemesonaItu ketika namaku nangkring di halaman cover buku yang beredar di toko buku. Hehehe… LOL

Radar Bojonegoro, 12 April 2015

cerpenku di Femina
  1. #MemesonaItu ketika aku mampu membuat bahagia orang-orang di sekitarku

Tahu enggak sih, bahagia itu menular. Pun dengan semangat. Dan aku, paling benci dekat sama orang yang suka ngeluh. Uh, enggak bersyukur dan kalau aku tertular… bisa jadi hariku berwarna gelap.

 

Bahagia, semangat,  senyum dan tawa. Buat aku adalah sepaket lengkap yang bakalan bikin orang-orang di sekitarku ikutan bahagia. Makanya, sebisa mungkin sih aku mengurangi berita duka buat semua teman-temanku dan menyampaikan kabar bahagia agar mereka ikutan bahagia.

Karena #MemesonaItu ketika aku bisa membuat orang-orang di sekeliling aku bahagia dan nyaman dekat denganku.

 

  1. #MemesonaItu ketika aku tetap bisa menjadi diri sendiri

Hmm… aku? Aku tuh kayak apa? Ya, kayak gini. Kecil mungil, mata minus, gigi berantakan, ngeyelan, keras kepala dan pede abis.

 

Baca : Lebih Percaya Diri Jadi Diri Sendiri

 

Kalau aku ditanya pernah minder enggak dengan fisik, aku jawab PERNAH. SMP itu aku minder banget, tapi setelah SMA dan kuliah? Enggaklah.

Aku kecil mungil, enggak apa-apalah sering dibilang anak kecil. Justeru itu salah satu alasan yang bikin aku awet muda dan gampang nyari pasangan yang tingginya lebih dari aku. Beneran loh, usia aku sekarang 26 tahun, tapi aku sering dikira 20 an dan kemarin malah dikira anak SMA. Pun waktu aku ngelahirin Arjuna, waktu itu usiaku sudah 24 tahun, tapi aku dikira anak SMA yang MBA… ow… ow… ow…

 

Kecil mungil pendek, pengen tinggi tinggal pakai sepatu hak tinggi. Aku bakalan kelihatan tinggi. Hehehe…

 

Terus, soal gigi yang berantakan? Kenapa enggak dibehel? Kenapa enggak dirapihin atau diratain? Karena aku enggak punya duit… wkwkwkw…

 

Enggak juga ding, karena aku memang suka dengan gigi berantakan. Aslinya suka banget sama gigi kelinci kayak Chelsea Olivia itu. Tapi kayak gini enggak apa-apalah, bikin aku manis… cieee… pede banget kan yah?

 

Aku ngeyelan, keras kepala… iya banget. aku enggak mungkin jadi Witri yang sekarang ini kalau aku enggak keras kepala nolak perjodohan dan nekat kuliah. Kalau waktu itu aku meleleh sama keputusan orang tua, mungkin sekarang aku cuman jadi ibu rumah tangga yang kesehariannya momong anak sambil ngurus sawah. Yah, bukannya profesi itu jelek sih, tapi itu kan bukan profesi cita-cita masa kecil aku.

Sisi lain dari aku, aku tuh gampang banget akrab, gampang banget percaya sama orang. Aku gampang dapat temen, tapi gampang pula kecewa. Aku orangnya juga ceplas-ceplos, enggak bisa basa-basi. Suka ya ketawa, sedih ya nangis. Hehehe… Tapi tahu enggak, karena sifat aku gampang akrab sama orang, aku pernah disukain seseorang. Pernah dibuat rebutan loh… cieee… bangga ah, soalnya aku jelek tapi direbutimn (pede dan sombong yah, gue? Heheheh)

 

Dan aku memesona dengan berbagai kekurangan. Karena #MemesonaItu ketika aku dijadiin isterinya Pak Wendi padahal mantan-mantannya lebih baik dari aku. Yah, Witri kan suka makan pete yang bikin bau mulut, Witri suka ngupil, Witri suka kentut pas makan, Witri itu cerewet, Witri itu enggak pinter, Witri itu narsisnya kelewat batas, Witri itu sok oke padahal enggak oke dan bla… blaa… Sementara mantannya Pak Wendi kan cantik, pinter, mandiri enggak manja kayak Witri… etapi, aku loh yang dipilih sama Pak Wendi, ya karena yang #MemesonaItu aku bukan mantannya Pak Wendi. LOL…. (piss ya embak-embak).

 

  1. #MemesonaItu ketika aku bisa menjadi inspirasi

Mungkin aku enggak sehits Mak Gesi, Mak Pungki, Mak Windi, Teh Langit, hallah pokoknya mereka seleb blogger. Aku masih remahan rengginang, siapa elu Wit kalau boleh dikata. Etapi… bahagia dong ketika aku bisa jadi inspirasi.

 

Baca : Dari Hobi Sampai Profesi Yang Menginspirasi

 

Percaya enggak percaya, karena hobi aku sebagai penulis dan blogger, ada yang kepeng loh. iya, kepengan kayak aku. Padahal novel yang terbit mayor baru satu, belum punya banyak bukulah. Ngeblog juga masih ala-ala, suka-suka, ngikut lomba juga enggak pernah menang, terus… ada yang nginbox kepengen belajar nulis atau ngeblog sama aku, yojelas aku bahagia tho?

 

Ya ya ya… yang #MemesonaItu aku dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Aku bisa berkata #MemesonaItu AKU karena aku selalu dan selalu bersyukur. Biar Gusti semakin menambah nikmatNya ke aku. Selalu bersyukur biar aku selalu bahagia dan menebarkan aura positif.

 

Pokoknya, kalau mau memesona, ya bersyukurlah! Percaya diri dengan diri sendiri, mau fisik kayak apa ya biarlah wong itu ciptaan Gusti. Mau bisaya Cuma ini itu (kalau aku nulis) ya maksimalkan kebisaanmu. Enggak perlu iri sama orang lain, enggak perlu kepengen jadi orang lain, karena menjadi diri sendiri itu lebih memesona daripada menjadi orang lain.

Intinya, #MemesonaItu adalah ketika aku tetap bersyukur menjadi diri sendiri.

#MemesonaItu

Witri Prasetyo AjiCompetitionDiary#MemesonaItuKARENA #MEMESONAITU, KETIKA AKU...?   KARENA #MEMESONAITU, KETIKA AKU...? Pernah enggak sih, kamu punya pengalaman pahit di masa lalu? Kurasa, semua orang... punya masa lalu yang pahit. Dan masa lalu yang pahit itu, bukan lantas menjadi alasan buat kita enggak bisa menjadi kita seperti sekarang ini. Karena bagiku, masa lalu adalah...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments