REVIEW FILM : KARTINI, KEBEBASAN DALAM KETERBATASAN

 

REVIEW FILM : KARTINI, KEBEBASAN DALAM KETERBATASAN. Kartini. Kenapa Kartini, kenapa bukan pahlawan lainnya? Padahal, dalam sejarah banyak sekali pahlawan wanita yang berjasa ata kemerdekaan RI. Kenapa harus Kartini? Kenapa? Sampai tanggal 21 April sampai diperingati sebagai hari Kartini. Kenapa…

 

Argh, hampir setiap tahun aku mendengarkan pertanyaan-pertanyaan itu. Terlepas dari mereka yang pro dan kontra terhadap perjuangan R.A. Kartini. Dan sebagai sosok yang mengaku sebagai #KartiniMasaKini, aku hanya mampu menjawab, karena R.A Kartini menulis. Jadi, meski Beliau sudah tiada, tapi karyanya (Habis Gelap Terbitlah Terang)  dan sejarah perjuangannya tak pernah lekang termakan waktu. Makanya aku juga menulis, agar kelak saat aku tiada, maka karyaku tak akan pernah mati terkubur bersama jiwaku. Eahhhh….

 

Dan terlepas dari hari peringatan Kartini, kali ini aku mau menulis review film Kartini yang menurut aku tuh wajib ditonton. Plisss… jangan sangkut pautin dengan gosip atau ketololan Dian Sastro yang didapuk sebagai pemeran utama, Kartini yah. Karena kalau boleh jujur sebenarnya juga rada gimana gitu pas nonton video Mbak Dian yang menurut aku agak gimana gitu. Tapi karena aku bukan fans berat dan bukan haters Mbak Dian, yaudah aku nonton film Kartini. Lagian emang udah jauh-jauh hari sih rencana pengen nonton. Hehehe…

 

Oke, kembali ke review yah. Buat aku pribadi, film Kartini ini mengajarkan aku tentang mimpi, kebebasan, pengorbanan dan pengabdian. Saat nonton film ini, aku sempat dibuat bingung dengan alur maju mundur yang jawabannya aku dapatkan di bagian akhir film. Iya, pas awal pembukaan aku memang sempat bingung, sebenarnya siapa sih Kartini itu? Kenapa dia nangis kepengen tidur bareng Yu Ngasirah. Kenapa Kartinikecil memanggil yu Ngasirah dengan panggilan”Bu” tetapi Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo)  memaksanya memanngilnya “Yu”?

 

Aku yang hanya sedikit tahu soal sejarah R.A Kartini akhirnya mikir, apakah Kartini ituanak angkat? Sebenarnya, Kartini anak siapa?

 

Film yang berdurasi selama 2 jam dengan 3 bahasa (Jawa, Indoneasia dan Belanda) ini benar-benar menghipnotisku.  Setelah adegan yang mengharu biru antara kartini kecil dan M. A Ngasirah muda (Nova Eliza) sukses bikin saya termehek-mehek karena seorang ibu yang ‘seolah’ menyerahkan anaknya untk orang lain.

 

Hingga film berlanjut, Kartini beranjak dewasa (Dian Sastro). Kartini tumbuh menjadi gadis tomboy kalau zaman sekarang mah bahasa kerennya. Bahkan dia bosan dengan kehidupannya dan enggak mau menjadi raden  ayu.  Secara, menjadi raden ayu itu berarti harus siap menjalani pingitan. Di mana raden ayu itu tidak boleh keluar rumah sedari haid pertama sampai dengan datanglah seorang pria yang akan melamarnya. Duh, tak bisa kubayangkan. Dulu, 2 tahun terkurung hanya dengan hiburan tivi saja aku sudah hampir gila, apalagi ini?

 

Baca : Nikah Atau Kuliah?

 

Kegalauan Katini seolah diketahui oleh kakaknya, Sosrokartono (Reza Rahardian). Sebelum Sosrokartono pergi ke Belanda, Beliapun memberikan sebuah kunci  kamarnya pada Kartini. Katanya, itu adalah kunci yang akan membawa Kartini ke luar dari dunianya. Yups, di dalam kamar Sosrokartono ada pintu yang mampu membawa Kartini keluar, ke alam yang bebas.

 

Setelah Sosrokartono bertolak ke Belanda, Kartini langsung membuka kamar Kartono. Dan… apa yang Kartini temukan setelah membuka pintu dengan kunci itu?

 

Tumpukan buku-buku yang memberi inspirasi bagi Kartini. Semenjak saat itu, buku adalah teman setia Kartini. Kartini sangat berbeda dengan Soelastri (Adinia Wirasti), kakaknya. Keseharian Kartini diisi dengan membaca. Hingga Soelastri menikah dan Kartini sendiri. Lalu disusul dengan kehadiran kedua adiknya yang sama-sama dipingit, Kardinah (Ayushita) dan Roekmini (Acha Septriasa).

 

Bersama Kardinah dan Roekmini, Kartini berjuang. Kartini ingat betul dengan nasehat Sosrokartono, “Apa yang kamu miliki saat ini, tidak ada artinya jika hanya menjadi milikmu sendiri. Berbagilah! Perubahan tidak bisa dilakukan hanya sendiri.”

 

Kartini, Kardinah dan Roekmini, mereka melakukan perubahan. Tetapi, ada seseorang yang tidak menyukai perjuangan Kartini, yaitu Slamet—kakaknya (Denny Sumargo). Hingga pada satu ketika, Kardinah dilamar Raden Adipati Joyodiningrat (Dwi Sasono) yang sudah berisiteri. Kardinah bisa apa? Meski dia menolak, tapi apa daya? Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat sudah pernah berjanji pada Raden Adipati Joyodiningrat jika kelak akan menjodohkannya dengan Kardinah. Dan sebagai bangsawan, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat harus menepati janjinya.

 

Di sini, imajinasiku kembali liar. Aku jadi ingat masa-masa seseorang melamarku dan memaksaku menjadi isterinya. Aku terbawa suasana saat menonton film ini, mata berkaca-kaca dan tangis hampir pecah. Aku pernah berada di posisi Kardinah. Bedanya, Kardinah akhirnya menikah dengan Slamet, sementara aku tidak dan Alhamdulillah aku bisa kembali melanjutkan menuntut ilmu.

 

Setelah Kardinah menikah, Roekmini dan Kartinipun dipisahkan. Kartini seolah berjuang seorang diri. Hingga akhirnya dia bertekat untuk mengajukan beasiswa agar bisa sekolah ke Belanda. Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat menyetujuinya, tapi tidak untuk Raden Adjeng Moeriam. Dan dengan segala upayanya, dia menentang Kartini. Tapi tekat Kartini sudah bulat, apalagi dia mengantongi restu ayahandanya.

 

Sembari menunggu jawaban akan proposal beasiswanya, pada satu ketika datanglah lamaran dari Bupati Rembang untuk Kartini. Kartini berusaha menolak, selain karena berniat melanjutkan sekolah, Kartini menolak karena Bupati Rembang sudah beristeri dan mempunyai anak. Tetapi Raden Adjeng Moeriam terus memaksa. Bahkan akhirnya mengurung Kartini di kamarnya. Saat itu, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat tak bisa membantu Kartini karena Beliau tengah sakit.

 

Sebagai seorang ibu, M.A Ngasirah tidak bisa tinggal diam. Kartini itu anaknya. Saat Raden Adjeng Moeriam pergi ke Pati mengambil obat untuk Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, maka dibukakan pintu untuk Kartini agar bisa keluar. M. A Ngasirah membuka pintu bukan untuk membiarkan Kartini kabur, tapi dia ingin berbicara dengan Kartini sebagai ibu dan anak.

 

Dalam adegan ini, aku mendapatkan jawaban dari adegan awal film diputar. Di sini, diceritakan tentang pengorbanan M. A Ngasirah sebagai seorang isteri dan seorang ibu. Ternyata, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat adalah suami M. A Ngasirah yang diminta oleh Bupati Jepara untuk menikahi Raden Ayu Moeryam. Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat sebenarnya menolaknya, tapi M. A Ngasirah ikhlas berbagi. Semua dia lakukan demi masa depan anak-anaknya agar kelak bisa sekolah, bisa membaca dan menulis.

 

Total banget, di sini aku benar-benar ngerasain tentang pengorbanan seorang ibu demi masa depan anak-anaknya. Dan aku juga suka banget dengan petuah M. A Ngasirah untuk Kartini. Kartini yang menemukan kebebasan dari orang-orang Londho (Belanda) tapi mereka tidak mempunyai bakti. Yups, adat istiadat Jawa mengajarkan tentang bakti. Hal yang aku petik adalah, sebebas-bebasnya sebagai perempuan, perempuan tetap terikat pada bakti, entah bakti kepada orang tua maupun bakti kepada suami.

 

Dan yang aku suka lagi, ketika Kartini menerima lamaran Bupati Rembang, dia memberikan syarat dan Bupati Rembangpun menyetuji syarat-syarat yang diajukan oleh Kartini. Bahkan Bupati Rembang juga bersedia mendirikan sekolah untuk perempuan. Di sini, lagi-lagi aku mendapatkan pelajaran, bahwa dukungan dari pasangan itu penting banget nget nget…

 

Sayangnya, setelah 3 hari setelah Kartini menikah, dia mendapatkan jawaban atas beasiswanya. Tapi apalah daya, Kartini sudah menikah dan dia harus mengubur dalam-dalam impiannya.

 

Film ini sebenarnya recomended banget buat ditonton. Banyak banget pelajaran yang bakalan kita dapatkan. Akting para aktor dan aktrisnya juga total banget.

 

Yang belum nonton Kartini, nonton yuk? Abaikanlah keteledoran Mbak Dian yang sampai sekarang enggak mau minta maaf. Hehehe… LOL…

Witri Prasetyo AjiReview Film#ReviewFilmKartiniREVIEW FILM : KARTINI, KEBEBASAN DALAM KETERBATASAN   REVIEW FILM : KARTINI, KEBEBASAN DALAM KETERBATASAN. Kartini. Kenapa Kartini, kenapa bukan pahlawan lainnya? Padahal, dalam sejarah banyak sekali pahlawan wanita yang berjasa ata kemerdekaan RI. Kenapa harus Kartini? Kenapa? Sampai tanggal 21 April sampai diperingati sebagai hari Kartini. Kenapa...   Argh, hampir setiap tahun...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments