CURAHAN HATI SEORANG OPERATOR SEKOLAH…

 

CURAHAN HATI SEORANG OPERATOR SEKOLAH… Monday School datang lagi. Di episode kedua ini (ciyeh…kayak sinetron aje), temanya adalah Operator Sekolah. Karena saya dan Mbak Cheila punya profesi sama, yaitu operator sekolah.

 

Baca punya Bu Guru Cheila :

Balada Operator Sekolah

 

Jadi operator sekolah itu? Sebenarnya kalau dinikmati ya kerjanya enggak sulit-sulit banget sich. Bejibun apa kagak, tergantung waktunya. Kalau tahun ajaran baru atau awal triwulan ganjil, bisa jadi banyak. Pun dengan akhir triwulan genap.

Jadi operator sekolah sebenarnya gampang, wong tinggal masukin data ke aplikasi yang sudah siap. Lebih sulit bikin aplikasinya atuh, haahaaa… (pembahasan anak TI banget). Tapi, jad operator sekolah itu tanggung jawabnya besar. Apalagi kalau tunjangan sertifikasi enggak kunjung cair. Wong setelah data-data diaplikasi sudah terisi, masih nunggu dulu apakah JJM (Jumlah Jam Matpel) sudah linier, sudah 24 jam belum, terbit SKTP dan bla… bla…

 

Yang bikin sedih itu kalau tunjangan kagak cair, SKTP enggak terbit terus operator yang jadi sasaran. Padahal itu bukan wewenang operator loh, tapi kan yang atasan sono. Operator mah tinggal masukin data. Tapi… ya begitulah.

 

Kerja jadi operator juga enggak Cuma di sekolah doang. Di rumah juga. Kadang tengah malam bangun, dini hari bangun, demi apa coba kalau enggak demi mendapatkan akses internet yang lancar untuk sinkronisasi.

 

Operator sekolah zaman sekarang kan kagak Cuma ngurusin data di dapodik, tapi di PMP juga dan itu bikin… tuing-tuing. Hahaha…

Nginput banyak data (hampir 500an quisioner) dikali banyaknya guru di sekolah. Bisa dibayangkan gimana tuing-tuingnya operator sekolah? Masih di tambah dengan quisioner dari komite, kepala sekolah, 30 siswa, dan masih dikejar deadline. Sementara saya enggak Cuma sebagai operator sekolah doang, tapi juga sebagai tata usaha, beneran capek pek pek dan terkadang pekerjaan harus saya bawa pulang. Endingnya, waktu saya buat keluarga pun berkurang.

 

Terus, kalau jelang lulusan kayak gini tugas operator sekolah juga banyak euy. Sebenarnya sih untuk tahun ini enggak sebanyak tahun sebelumnya, tapi banyak jadinya kalau guru melimpahkannya ke operator sekolah. Kalau tahun sebelumnya, entry nilai semester 1 sampai dengan 5 hanya untuk mata pelajaran      UN (Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA kalau untuk SMP). Sementara tahun ini? Semua mata pelajaran, semester 1 sampai dengan semester 6, ditambah nilai US/USBN dan nilai praktek. Ouw… ouw… dan itupun nilai plus KKM yang diinput, coba bayangkan?

 

Sebenarnya yang tahun ini tuh tugas guru sendiri yang nginput, ada juknisnya kok. Etapi, guru ada loh yang enggak mau dan malah bilang kalau tugas guru Cuma bikin nilai doang, itu urusan operator sekolah. Terkadang yang bikin kezel itu… denger ada yang bilang kalau tunjangan sertifikasi enggak turun kagak apa-apa, lah kok buktinya SKTP belum terbit ajah setiap hari minta dicek P2TK-nya?

 

Sebagai operator, enak enggak enak. Gaji berapa? Iya berapa? Etapi kalau disaya enak ding, kalau pada cair, saya dapat insentif dari sekolah. Terus malah ada guru yang ngasih pribadi sebagai tanda terima kasih. Tapi ya ada pula yang gitulah… hahahaha…

Woles, saya sich terkadang woles. Etapi kalau terkadang kerja kerasnya disepelekan itu kok ya nyesek, yah? Apalagi kalau menyangkut keluarga. Sebagai operator sekolah saya sich berusaha menjalankan tanggung jawab saya, kerjaan saya bawa pulang enggak apa-apa. Alhamdulillah keluarga mau mengerti, karena itu wujud konsekuensi karena ngizinin saya kerja. Etapi sedih loh, kalau saya disuruh mengerti atau memahami ke guru karena punya anak kecil. Lah emang SAYA ENGGAK PUNYA ANAK KECIL? Anak saya baru berusia 2,5 tahun loh! SUDAH BESAR?

 

Operator sekolah tetaplah manusia biasa, pun saya, saya sudah menikah, pernah hamil, pernah melahirkan, tentunya punya anak. Etapi kalau saya disuruh memahami yang PUNYA ANAK KECIL sementara saya juga punya anak kecil tapi enggak dipahami, itu rasanya…..

 

Okey, salah saya juga ‘mungkin’. Kenapa mau kerja? Kenapa mau jadi operator sekolah kalau ngeluh? Saya balik tanya saja dech, kenapa jadi guru kalau nggak mau ngejalanin tugasnya dan alesan anak?

 

Mungkin loh ya, ini hanya mungkin, ketika saya tak cukup dibebani dengan tugas-tugas sebagai operator sekolah, tata usaha atau setiap ada event ditunjuk sebagai panitia, mungkin karena saya bisa ataupun mampu. Tapi bukan berarti juga dong, enggak ada yang memahami saya kalau saya juga punya anak. Sedihnya jadi operator buat saya sich itu, SAYA JUGA PUNYA ANAK, SAYA JUGA SEORANG IBU!

 

Ini curahatan hati saya pakai urat yah, mungkin karena lagi kezellll saja sich. Saya mah gitu orangnya, sensinya setipis kulit ari kalau sudah nyangkut anak. Hahahah…

 

Woles… udah mau ditunjuk jadi operator sekolah, harusnya saya mau dong yah menerima segala konsekuensinya. Etapi, plis atuh… jangan semua yang berbau komputer dibilang pekerjaan operator sekolah, semua ada tupoksinya. Saya juga TU yang punya segenap tupoksi, tapi enggak semua kan yah?

 

So, ayuk ah saling ngerjain tupoksi masing-masing dan kalau bisa sich saling menghargai. SALING MENGHARGAI J

Witri Prasetyo AjiSMPISSUDAMPEL#CollaborativeBlogging,#MondaySchoolCURAHAN HATI SEORANG OPERATOR SEKOLAH...   CURAHAN HATI SEORANG OPERATOR SEKOLAH... Monday School datang lagi. Di episode kedua ini (ciyeh...kayak sinetron aje), temanya adalah Operator Sekolah. Karena saya dan Mbak Cheila punya profesi sama, yaitu operator sekolah.   Baca punya Bu Guru Cheila : Balada Operator Sekolah   Jadi operator sekolah itu? Sebenarnya kalau dinikmati ya...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments