KETIKA “KAPAN” MENJADI SETAN DI HARI LEBARAN

 

“Kapan wisuda?”

 

“Kapan kerjanya?”

 

“Kapan nikah?”

 

“Kapan punya anak?”

 

“Kapan mau nambah anak lagi?”

Tapi kenapa tidak ada pertanyaan, “Kapan matinya?”

Pertanyaan “kapan” itu terkadang menjadi setan tersendiri di hari lebaran. Hari nan suci penuh kebahagiaan itu terkadang menjadi momok menakutkan bagi “kami” yang belum mampu menjawab kata “kapan” itu. Hikssss…

Kekepoan dan minimnya rasa empati seolah menjadi tradisi yang jika kita hindari justeru kita seolah menjadi manusia anti sosial. Yups… saya pun pernah berada dalam posisi di mana saya memilih enggak bersilahturahmi lantaran takut dengan kata kapan yang berujung dengan perbandingan. Terus saya bakalan jadi baper. Lebaran yang seharusnya penuh tawa jadi penuh air mata.

Untuk tanya kapan wisuda, mungkin sih tidak bikin saya baper-baper banget. Kuliah saya kan telat 2 tahun, semester 6 saya nikah terus dapat kerjaan, semester 8 saya hamil. Baru deh semester 14 saya rampung kuliahnya.

Baca : Nikah Atau Kuliah

Paling banter waktu itu pertanyaannya adalah, “kuliahmu sudah selesai belum, sih” karena kebanyakan dari mereka menganggap saya sudah sarjana lantaran sudah nikah, sudah punya anak plus sudah kerja.

Etapi… momok yang paling menakutkan bagi saya adalah KAPAN NIKAH?

Saya yang punya cerita kurang mengenakkuan tentang pernikahan, seolah trauma dengan pertanyaan kapan nikah. Waktu itu, usia saya 20 tahunan. Bagi saya sih tuh usia muda, yah. Kalaupun belum nikah ya menurut saya sih wajar-wajar saja dan tidak tergolong perawan tua. Tapi berhubung teman-teman sepermainan saya di rumah sudah pada nikah pasca lulus SMA, ditambah lagi sepupu-sepupu saya memilih cukup lulus SMP lalu nikah, usia 20 belum nikah itu sudah kayak perawan tua yang dikejar deadline untuk segera mengakhiri masa lajang. Hiks… hiks….

Baca : Nikah Muda

Yang lebih mengenaskan lagi waktu itu adalah status saya ngejomblo. Jadi, pertanyaan kapan nikah itu gampang banget terjawad, “Iya mau nikah tapi syaratnya kurang kalih (dua).” Kalih sinten? (sama siapa)… wkwkwkwkwk… #oralucu

Hingga 2 tahun berlalu. Usia 22 dan ada teman sepermainan yang usianya di bawah saya menikah, okeylah… komplit sudah dan saya resmi dinobatkan jadi perawan tua…. hiks….

Sementara untuk pertanyaan kapan punya anak? Saya pernah juga mengalaminya. Saya nikah kan jelang ramadan, lebaran sudah jadi suami isteri dong. Sebagai pasangan baru, pertanyaan sudah bathi alias sudah hamil itu pastia ada. Tapi berhubung usia pernikahan kami waktu itu baru sebulan yah kami sih santai saja menghadapi pertanyaan itu.

Berbeda dengan pertanyaan yang diajukan 6 bulan kemudian. Sudah isi belum? Sudah hamil belum? Yang baru saja nikah saja sudah jadi…. bla… bla…




Baper dong, yah?

Meski baru 6 bulan nikah, tapi kalau dibandingin sama yang sebulan nikah tapi sudah jadi yaaa kayak gimana gitu? Karena bagi saya, yang menyakitkan itu bukan pertanyaannya kapannya, melainkan perbandingannya. Dibandingin itu menyakutkan, tsay….

Untuk pertanyaan selanjutnya, kapan nambah anak? Ya… ini sih santai saja. Jawabnya juga santai… lagi proses. Hohohoho….

Mungkin, pertanyaan “kapan” itu sudah menjadi hal yang wajar yah untuk sebagian orang, tapi kok buat saya itu terlalu menyakitkan. Apalagi berujung perbandingan, itu bisa jadi kebencian tersendiri loh.

Contoh nyata, saya punya sepupu yang sudah 6 tahunan nikah, harta benda Alhamdulillah, tapi belum dikasih rejeki anak. Pernah si Embah membandingkan dia sama saya yang 6 bulan nikah langsung hamil. Tahu enggak apa yang terjadi? Dia benci loh sama saya. Meskipun sepupu, ketemu saya saja ogah nanya. Lah…

Sama juga yang terjadi sama beberapa teman saya yang Alhamdulillah cepat ketemu jodohnya. Silahturahmi ditanya kapan dan berujung perbandingan. Mereka yang belum ketemu jodohnya bisa menaruh benci pada ‘kami’ yang sudah bertemu jodohnya.

Andai saja semua orang punya rasa empati dan tidak mau kepo sama urusan orang. Andai saja semua orang memahami, hidup ini sudah ada yang ngatur. Urusan jodoh, anak, dan matipun rahasia Tuhan.

Tapi…

Mana mereka mau tahu sih?

Kebanyakan yang terjadi kalau kita jauh sama jodoh, mereka bakalan bilang kita ini yang anaknya sulit, pemilih, nyari yang kaya…. bla… bla… Toh pada dasarnya nikah memang enggak mudah, kan? Saya dulu juga pemilih, kok. Masa iya nikah cuman sekali tapi sama sembarang orang? Nikah enggak cuman buat sehari dua hari sebulan dua bulan, buat seumur hidup tsay… wajar dong yah kalau pilih-pilih.

Kalau sudah lama nikah tapi belum hamil, ada saja yang bilang neko-neko dan berujung kata-kata menyakitkan. Duh… duh… urusan hamil kan kehendak yang di Atas, ye kan?

Sebenarnya, moment lebaran itu enggak cuma dihantui dengan tanya ‘kapan’ saja yang berujung perbandingan. Tapi saling pamer dan saling menunjukkan kehidupan sosial yang juga berujung perbandingan dan akhirnya melahirkan rasa iri dengki.

Semisal, eh si A dapat universitas negeri loh, kok kamu enggak? Eh, si A itu beruntung banget yah, dapat suami kaya, hla suamimu kok cuman…. Eh, si A dapat kerjaan bagus… bla… bla…

Dan yang sudah jadi tradisi, yang sukses dipuji-puji di depan mereka yang belum bertemu kesuksesannya. Hiks… Dan mereka pada enggak mikir, tuh kalau dibanding-bandingin bakalan sakit hati enggak, yah?

Posisi ini… saya pernah banget mengalaminya.

Saya cuma mikir, kenapa mereka selalu menilai dan memuji dari apa yang terlihat mata. Semua itu kan takdir. Yups, kembai lagi, TAKDIR.




Kapan kita lahir, kapan kita nikah, di mana kita kuliah. Kita bakalan kerja jadi apa, nikahnya sama siapa. Itu semua kan sudah ada yang mengatur. Lah kita manusia kan cuma bisa berusaha, berdoa, berusaha lagi… hasil finalnya kan tetap Tuhan yang menentukan.

Mbok ya o, moment lebaran, saling silahturahmi, enggak usahlah saling kepo pakai tanya kapan. Enggak usahlah memuji-muji yang lagi di atas. Mbok mending happy-happy, selfie bareng saja, menikmati hidangan lebaran macam opor ayam. Hahaha…

Baca : Opor Ayam So Good

Intinya gini, lebaran sebentar lagi, mari kuatkan hati buat menjawab pertanyaan kapan dan kuatkan iman agar tidak iri jika dibandingkan dengan kehidupan orang. Hehehe… J

Witri Prasetyo AjiWitTalk(adsbygoogle = window.adsbygoogle || ).push({}); Baper dong, yah? Meski baru 6 bulan nikah, tapi kalau dibandingin sama yang sebulan nikah tapi sudah jadi yaaa kayak gimana gitu? Karena bagi saya, yang menyakitkan itu bukan pertanyaannya kapannya, melainkan perbandingannya. Dibandingin itu menyakutkan, tsay.... Untuk pertanyaan selanjutnya, kapan nambah anak? Ya... ini sih santai...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments