#PAKETCASH #BUATKAMU YANG MENGINSPIRASI HIDUPKU

“Siapa tokoh panutan yang menjadi inspirasimu?”

 

Sering sekali saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sebagai umat muslim, ya jelas dong saya mengidolakan Rasulullah SAW. Dan idola saya selain Rasulullah yaitu Thomas Alva Edison. Siapa yang tak mengenal tokoh yang satu ini? Menemu lampu pijar yang sampai saat ini bermanfaat bagi kita semua. Padahal, Thomas Alva Edison adalah anak yang bodoh di sekolahnya dan dikeluarkan dari sekolah. Tapi siapa sangka, penemuannya justeru bermanfaat bagi umat sedunia.

 

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Tapi, yang mau saya bahas kali ini bukan Rasulullah maupun Thomas Alva Edison, akan tetapi orang yang menginspirasi hidup saya dan ada di kehidupan saya saat ini. Mereka adalah orang tua saya. Seorang yang selama ini melahirkan, membesarkan, mendoakan dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk saya.

Ada beberapa hal yang selalu saya ingat sampai saat ini. Pertama, ketika Bapak  menyuruh saya agar segera mungkin menyelesaikan pendidikan saya. Semester 6 saya menikah, kemudian mendapatkan pekerjaan. Jelas sekali, kuliah sempat mandeg. Yang jadi alasan saya waktu itu menunda kelulusan adalah karena progdi belum akreditasi. Tapi setelah progdi akreditasi? Saya masih saja menunda mengerjakan skripsi dengan alasan sibuk dengan pekerjaan. Padahal sebenarnya bukan itu alasan utama. Apalagi kalau bukan administrasi. Hiks…

 

Bapak  dan Ibu terus menerus menyuruh saya agar mengerjakan skripsi sesegera mungkin. Mereka bilang : eman-eman, tinggal selangkah (sayang, tinggal satu langkah). Hingga akhirnya saya jujur, tabungan saya kurang untuk menutup semua adminitrasi yang lama saya lupakan. Alhasil, Bapak  sama Ibu membantu. Jujur, saya malu. Ada rasa bersalah dan kasihan pada suami. Iya, saya takut kalau suami akan dicap sebagai lelaki yang kurang bertanggung jawab. Saya sudah berkeluarga, sudah bekerja, tapi tetap dibantu orang tua. Kata Bapak  sedari sebelum menikah dengan Pak Suami, meskipun sudah menikah, urusan pendidikan tetap menjadi tanggung jawabnya. Suami tidak boleh memikirkan pendidikan saya. Dan tugas saya adalah membuat mereka bangga, menyelesaikan kuliah saya. Memakai toga dan mendapatkan gelar sarjana. Bahkan, Bapakpun tidak berkeberatan jika saya mau meneruskan kuliah lagi.

Bukan hanya itu saja hal-hal yang selalu saya ingat tentang orang tua saya. Tapi ketika orang tua saya menyuruh saya berkerja. Iya, Bapak  dan Ibu memang menyuruh saya bekerja agar ilmu saya bermanfaat dan pengalaman saya bertambah. Mereka menyuruh bukan lantaran mereka ingin menikmati jerih payah saya, bukan, bukan itu. Tapi mereka menginginkan saya bekerja karena mereka ingin membuktikan kalau tiada yang salah menyekolahkan anak perempuan sampai kuliah. Karena selama ini, banyak tetangga atau saudara yang bilang kalau menyekolahkan anak itu buang-buang uang saja. Hiks…

 

Nah, ketika orang tua saya menyuruh saya bekerja, sementara saya punya anak, mereka tidak asal menyuruh. Akan tetapi mereka siap momong anak saya ketika saya bekerja. Mereka tak hanya mendukung, tapi mereka juga menyiapkan badan untuk saya.

 

Dan belum lama ini, ketika mereka tahu ada lowongan CPNS, Bapak  dan Ibu tidak hanya diam saja. Tapi mereka membantu menyiapkan apa yang saya butuhkan. Doa dan doa selalu mereka panjatkan. Akan tetapi, keberuntungan belum berpihak. Saya kalah di TKP. Tak mengapa, anggap saja sekolah masih membutuhkan tenaga saya dan Tuhan menginginkan saya untuk mengurusi tetek bengek anak saya. Karena selama ini, meskipun saya bekerja, saya masih bisa antar jemput anak. Secara, jarak tempat kerja saya dan sekolah anak saya lumayan dekat.

 

Tentang orang tua saya, tentang mereka yang menginspirasi hidup saya hingga saya menjadi seperti ini. Maka biarkan aku memulai ceritanya.

Tentang Bapak

Yang saya tahu dari seorang Bapak, Bapak adalah orang yang sabar. Bapak adalah seorang lelaki yang paling mencintai dan menyayangi saya. Bapak adalah seorang lelaki yang memperjuangkan hidupnya demi kebahagiaan saya. Sesulit apapun itu, akan Bapak lakukan untuk menuruti keinginan saya. Dan Bapak, adalah seorang yang tidak ingin melihat saya menderita. Bapak selalu ingin melihat saya mendapatkan yang terbaik.

 

Bapak adalah sosok seorang yang terlampau baik di mata saya. Beliau tidak hanya berjuang demi keluarganya, tapi juga demi orang-orang di sekitarnya.

 

Terkadang, kebaikan Bapak kepada orang-orang membuat saya cemburu. Bagaimana tidak? Bapak terkadang lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada keluarganya. Nuraninya yang tidak tegaan itu terkadang ‘sempat’ dimanfaatkan oleh orang-orang terdekat. Yang saya salut dari Bapak, Bapak tahu ada yang tidak tulus pada kami, ada yang memanfaatkan kami, ada yang berpura-pura baik pada kami, tapi Bapak sama sekali tak membalasnya. Yang Bapak ajarkan pada say, biarlah, tetaplah berbuat baik, kelak Allah akan membalasnya. Selain itu, Bapak juga selalu mengajarkan untuk selalu berprasangka baik pada siapa saja.

 

Bukan itu saja, Bapak juga mengajarkan kepada saya agar saya berbuat baik pada semua orang. Entah dia siapa, apa derajadnya, kaya atau miskin, bahkan jahat atau baik, kata Bapak tetaplah saya harus berbuat baik. Dan jika disakiti, Bapak selalu mewanti-wanti agar saya mau memaafkan.

 

Tetapi sayangnya, hati saya belum semulia itu. Okeylah terkadang ada rasa tak tega pada orang, tapi memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti saya? Hati saya belum setangguh itu.

Tentang Ibu

Ibu memang tak sesabar Bapak, tak sepemaaf Bapak, tapi saya tahu kalau Ibu adalah sosok perempuan yang berbakti pada suami dan teramat menyayangi orang tua. Bukan hanya orang tua Ibu, tapi juga mertua.

 

Ibu adalah sosok perempuan yang menghormati setiap keputusan Bapak, menurutinya meski terkadang tak semua keputusan Bapak mampu diterimanya, tapi Ibu tidak pernah protes. Jika memang Bapak membutuhkan suara Ibu, Ibu akan menjelaskannya di waktu yang tepat.

 

Ibu juga merupakan sosok yang setia. Ibulah yang menemani perjuangan Bapak, sedari nol sampai hidup boleh dibilang cukup.

 

Hampir sama seperti Bapak, Ibu selalu menasehati saya agar menjadi manusia pengalah, tidak dendam dan pemaaf. Tapi lagi-lagi, hati saya belum mampu semulia itu.

 

Yang ingin selalu saya warisi dari sifat Ibu, saya ingin berbakti pada Pak Suami seperti Ibu mengabdikan seluruh hidupnya pada keluarganya. Saya ingin sepenyayang Ibu pada orang tua maupun mertua. Dan saya ingin setangguh Ibu, membabat keegoisan dan menuruti setiap ucap suaminya. Semoga, Allah mengijabah doa saya. Aamiin.

#BuatKamu yang menginspirasi hidupku

Kalau selama ini Bapak dan Ibu selalu mempersembahkan yang terbaik buat saya, kini saatnya saya mempersembahkan yang terbaik buat mereka.

 

Menekuni pekerjaan yang saya miliki saat ini adalah salah satu cara saya membuat mereka bangga. Karena saya yakin, tidak ada yang sia-sia dari apa yang saya kerjakan. Hari ini boleh jadi saya bukan siapa-siapa, tapi kelak saya yakin Allah akan memberikan sesuatu yang akan membuat orang tua saya bangga dengan saya.

 

Bapak dan Ibu memang mendukung saya menjadi seorang working mom, tapi bukan berarti mereka mau saya beri rejeki yang Allah kasih untuk saya. Prinsip Bapak adalah tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya. Selagi masih bisa mencari nafkah sendiri, pantang bagi Bapak memakan jerih payah anaknya. Kalau anak ada rejeki, Bapak akan menasehati saya agar saya menabung untuk masa depan.

 

Akan tetapi, sebagai anak mana bisa begitu? Kapan saya membalas kebaikan mereka—yang sampai kapanpun tak akan pernah terbalaskan. Sebagai anak, saya ingin membatu mereka yang telah berjuang menjadikan saya seperti saya saat ini.

 

Pernah, saya ingin sekali mengajak mereka makan di luar atau piknik bersama. Tapi mereka menolaknya. Saya tahu, Bapak dan Ibu bukan sosok yang suka menghambur-hamburkan uang. Kalau ada uang lebih ya ditabung saja. Tapi kan…

 

Gagal niat saya mengajak mereka makan di luar.

 

Terkadang, hal kecil yang bisa saya lakukan pada mereka adalah membeli sembakau dan kebutuhan bulanan sebelum Ibu berbelanja. Atau Bapak sering sekali meminta tolong agar diisikan pulsa, minta tolong diisikan paket data, dan meminta tolonguntuk mengirimi adek saya uang—karena adek saya kuliah di luar kota.

 

Hal sederhana yang bisa saya lakukan ya membelikan pulsa untuk keluarga, membayar tagihan listrik bulanan dan sedikit demi sedikit membantu keuangan adek saya.

TCASH?

Dan TCASH #BuatKamu! Apaan sih TCASH itu?

TCASH adalah layanan uang elektronik dari Telkomsel yang bisa digunakan oleh seluruh pelanggan Telkomsel dan non Telkomsel untuk semua transaksi hanya dengan menggunakan aplikasi kapanpun dan di manapun.

TCASH ini memberikan kemudahan bagi kita semua. Dengan menghadirkan berbagai layanan seperti : pembayaran tagihan (PDAM, BPJS, listrik, internet), pembelian pulsa, donasi digital, transfer antar pengguna, pembayaran transportasi, pembeian BBM non tunai hingga bayar kalau habis jajanpun bisa lewat TCASH.

 

Jadi, semisal kita hangout terus enggak bawa duit, kita bisa loh bayar pakai TCASH. Asalkan merchantnya sudah bekerja sama dengan TCASH dan ada loh ya saldo TCASHnya. Hehehe…

 

Selama ini, soal pulsa maupun paket data seluruh anggota keluarga saya, TCASH ini andalannya. Pun soal pembayaran tagihan seperti tagihan listrik. Ada TCASH mah semuanya beres.

 

Dengan sebegitu banyaknya kemudahan yang diberikan oleh TCASH, terus bagaimana mendapatkannya?

Cara download dan instal TCASH tuh gampang banget, kok. Tinggal download ke playstore atau app store. Download dan instal kayak  kalau download maupun instal kebanyakan aplikasi. Untuk pengguna non telkomsel, bisa langsung  aktifkan di aplikasi TCASH Wallet. Sementara untuk pengguna Telkomsel, bisa menghubungi  *800*88*6-digit-PIN#. Untuk stickernya bisa ke Grapari ataupun dikirim.

Terus, cara isi saldonya juga gampang banget. Bisa lewat toko retail seperti Alfamart maupun Indomart, bisa langsung ke Grapari, lewat ATM, internet banking maupun mobile banking juga bisa kok.

Untuk merchant TCASH adalah :

Dunkin Donuts, Mc. Donald, Agoda, dan masih banyak lagi. Merchant bisa dilihat di aplikasi.

Nah, gampang banget kan pakai TCASH? #PakeTCASH #BuatKamu  yang selalu menjadi inspirasai.

Witri Prasetyo AjiCompetition#PAKETCASH #BUATKAMU YANG MENGINSPIRASI HIDUPKU “Siapa tokoh panutan yang menjadi inspirasimu?” Sering sekali saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sebagai umat muslim, ya jelas dong saya mengidolakan Rasulullah SAW. Dan idola saya selain Rasulullah yaitu Thomas Alva Edison. Siapa yang tak mengenal tokoh yang satu ini? Menemu lampu pijar yang sampai saat...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments