KENDURI NUSANTARA (DOA UNTUK NEGERI) BERSAMA GUS MUWAFIQ

…. Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati…


Kami masyarakat Solo merasakan kesusahan hati Ibu Pertiwi…


Kami juga merasa gelisah melihat situasi bangsa yang berkembang akhir-akhir ini. Semakin hari semakin panas oleh perbedaan pendapat. Perbedaan pilihan tergiring menjadi menyebarnya saling curiga, amarah, dan bahkan tindakan yang merusak tali silaturahmi dan kekeluargaan. Persaudaraan serta persahabatan sekonyong-konyong rusak dan semakin parah oleh tindak-tanduk pengelompokan.


Kondisi inilah yang akhirnya menggerakkan masyarakat Solo untuk menggelar doa bersama. Kenduri Nusantara Doa Anak Negeri untuk umbul donga, memanjatkan doa bersama demi keselamatan negeri.


Di Solo kenduri merupakan sebuah mekanisme sosial untuk merawat keutuhan, memulihkan keretakan, dan meneguhkan kembali cita-cita bersama, sekaligus melakukan kontrol sosial atas penyimpangan dari cita-cita tersebut.


KENDURI NUSANTARA diadakan pada hari ini, Minggu, 3 Maret 2019. Pukul 07.00 – 10.00 WIB di Benteng Vastenburg Surakarta.

Tumpeng Kenduri Nusantara Doa Untuk Negeri Gus Muwafiq

Acara ini dibuka dengan pertunjukan tari gambyong, lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama, sambutan-sambutan, do’a bersama dan tausiyah bersama Gus Muwafiq.


Umbul donga memanjatkan doa bersama secara lintas iman untuk keselamatan negeri dilakukan oleh warga Solo bersama dengan ulama rakyat, salah satunya Gus Muwafiq.

Tari Gambyong Kenduri Nusantara Doa Untuk Negeri Gus Muwafiq


Gus Muwafiq adalah nama panggilan KH. Ahmad Muwafiq atau Kiai Muwafiq salah satu ulama Nahdlatul Ulama’ (NU) yang berasal dari Yogyakarta.

Menurut Wikipedia, Gus Muwafiq pernah menjabat sebagai asisten pribadi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), termasuk saat Gus Dur menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.


Meskipun cuaca tak bersahabat karena gerimis, warga masyarakat Solo tetap berantusias meramaikan acara Kenduri Nusantara. Apalagi acara ini bukan hanya kenduri maupun doa saja, akan tetapi juga diramaikan dengan beberapa pentas seni seperti tari gambyong.

Perhelatan ini merupakan inisiatif warga masyarakat Solo, sebagai bentuk kepedulian warga masyarakat Solo terhadap situasi bangsa yang semakin jauh dari rasa solidaritas.

BHINNEKA TUNGGAL IKA hanya menjadi simbol belaka bahwa negara ini memiliki sejarah yang dibangun oleh beragam budaya, beragam suku bangsa, dan beragam agama serta kepercayaan yang dianutnya.

Karena itulah dibutuhkan kesadaran untuk kembali ke akarnya bahwa kita memiliki bangsa yang kaya warisan budaya.

Inilah saatnya kembali merawat NKRI menjaga Indonesia yang menjadi tanggung jawab semua pihak sebagai anak bangsa.
Kenduri dengan sajian tumpengan merah putih adalah simbol semangat kami, simbol kecintaan kami pada NKRI.

Masyarakat Solo berharap warga di wilayah lain seantero negeri bisa melakukan hal yang sama dengan cara dan bentuk sesuai dengan tradisi dan kepercayaan/keyakinan masing-masing. Inilah saatnya kita menata kembali ruang sosial kita, membuka kembali sekat-sekat, membersihkan kembali saluran-saluran yang kotor, dan menyiraminya dengan air kesejukan.

Kita rawat dan jaga bersama agar Ibu Pertiwi tidak bersusah hati. Mari bersimpuh dan memanjatkan doa. Demi kita semua, bangsa Indonesia.

Oh ya, bicara soal Solo nih… Solo bukan hanya kota yang kaya akan budaya. Tapi juga kaya akan kulinernya. Mumpung ke Solo nih, tak lengkap rasanya kalau tidak jajan.

Dan berikut adalah jajan pasar khas Solo yang bisa dibeli di acara Kenduri Nusantara maupun pasar tradisional..

Lupis
Lupis (sering disebut MoHam Koi ) merupakan makanan khas Indonesia terutama area Jawa.


Lupis dibuat dari beras ketan yang dimasak lalu dibungkus dengan daun pisang.

Brem
Brem adalah makanan yang berasal dari sari ketan yang dimasak dan dikeringkan, merupakan hasil dari fermentasi ketan hitam yang diambil sarinya saja yang kemudian diendapkan dalam waktu sekitar sehari semalam.

Sensasi makanan ini muncul ketika makanan dimasukkan ke dalam mulut akan langsung mencair dan lenyap meninggalkan rasa ‘semriwing’ di lidah.

Ampyang
Ampyang (Hanacaraka: ꦄꦩ꧀ꦥꦾꦁ ) adalah makanan tradhisional khas Jawa yang terbuat dari kacang tanah dan diberi gula jawa.

Rasa ampyang itu manis dan gurih.

Intip madu
Kerak nasi adalah lapisan nasi kering dan agak keras, dan sedikit hangus terbakar yang terdapat di dasar bagian dalam dandang atau kuali penanak nasi.

Kerak nasi tercipta akibat beras yang dimasak terpapar panas langsung pada dinding kuali.

Rasikan
Rasikan/racikan
Rasanya manis.
Jajan pasar yang ingatkan kenangan sama Alm. Mbah Uti.


Witri Prasetyo AjiHangout#agawesantosa,#doaanaknegeri,#guyubrukun,#kendurinusantara2019,#menjagaIndonesia,#merawatNKRI,#salamcintanegeri,#umbuldonga,Doa Untuk Negeri,Kenduri NusantaraKENDURI NUSANTARA (DOA UNTUK NEGERI) BERSAMA GUS MUWAFIQ …. Kulihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati… Kami masyarakat Solo merasakan kesusahan hati Ibu Pertiwi… Kami juga merasa gelisah melihat situasi bangsa yang berkembang akhir-akhir ini. Semakin hari semakin panas oleh perbedaan pendapat. Perbedaan pilihan tergiring menjadi menyebarnya saling curiga, amarah, dan...Personal Blog Witri Prasetyo Aji

Comments

comments